Ada sebuah pepatah, "Mengapa ada perjumpaan jika harus ada perpisahan".
Hidup yang benar-benar hidup telah kurasakan selama kurang lebih dua tahun. Ya, dua tahun aku mengarungi kehidupan bersama rekan-rekan sejawat yang menamakan diri kami "Sosial 15". Aku masih ingat betul, betapa kami pada awalnya begitu terkotak-kotakkan. Ada kawanan "haus", ada kawanan "borjuis", ada kawanan "surfing" (baca: tukang tidur di kelas), bahkan ada kawanan "anker" alias "anak kereta".
Dua tahun, kami digodok, berproses dalam dinamika belajar. Ya, "belajar" menjadi sebuah kata dengan sejuta makna. Aku tidak hanya belajar tentang hal-hal akademik saja, melainkan juga belajar untuk "hidup". Hidup untuk berbagi, peduli, mau saling membantu satu dengan yang lain.
Tentu, tiga bulan pertama bukanlah waktu yang mudah bagi kami untuk saling belajar. Namun Tuhan sungguh luar biasa. Kami mulai saling mengerti satu sama lain. Kami yang pemalu, mulai berubah menjadi agak berani. Kami yang egois, mulai belajar bagaimana berbagi dengan orang lain.
Inilah kami, saat pertama kali berjumpa dan melabelkan diri dengan titel "Sosial 15". Masih dengan ego masing-masing, masih dengan rasa kurang percaya diri, masih dengan segala egosentrisme yang melekat erat
Kemudian, hadirlah para pendidik yang mendidik kami dengan sejuta karakter, dengan kelebihan dan kekurangan mereka. Saling lempar argumentasi, sembunyi-sembunyi tidak mengerjakan tugas, hingga menggelontorkan orasi kepada pimpinan untuk berefleksi sebelum menurunkan peraturan yang tak pasti.
Dua tahun, yang tidak lama kemudian tinggal tersisa enam bulan. Kami pun tiba pada momen untuk menghadapi ujian akhir. Tidak hanya satu, tetapi serangkaian. Tetapi ada satu kekuatan yang membuat kami mampu melalui semua itu. Doa Bersama. Tidak cukup hanya berdoa, karena berdoa sendiri-sendiri adalah berdoa untuk masing-masing pribadi. Juga demikian, tidak cukup bersama-sama, larut dalam kebersamaan, tanpa adanya doa. Doa bersama, tidak hanya mendoakan aku sebagai pribadi, tetapi juga turut mendoakan sahabat-sahabatku dalam komunitas ini
Ada sebuah tradisi yang sangat aku ingat. Sesaat sebelum bel masuk ujian nasional, kami berkumpul, menyatukan tangan kami, seturut menyatukan doa dan permohonan kami, untuk menghadapi ujian akhir ini. YA, UJIAN AKHIR YANG TERAKHIR: MEMPERTAHANKAN KEJUJURAN.
Hanya satu doa kami, "Mampukan kami untuk melaluinya dengan kejujuran sesuai dengan usaha kami masing-masing".
Hingga akhirnya, kami mampu melewati tiga hari itu, walaupun dengan segala peluh dan perjuangan, dengan meneriakkan keberhasilan dengan kejujuran
Tetapi tidak akan pernah ada yang lebih bisa membuatku bangga, selain menjadi bagian dari komunitas ini.
Tidak terasa, waktu cepat berlalu. Kami sudah siap, menjadi pribadi-pribadi dewasa yang haus untuk memperjuangkan mimpi-mimpi yang telah ditata di masa SMA. Lima belas dari kami siap untuk melanglang buana, melanjutkan mimpi-mimpi mereka diluar bumi pertiwi ini. USA, Belanda, Inggris, Jepang, Australia, Singapura, Dubai, menjadi patok-patok baru yang siap ditanam untuk terus mengukirkan semangat kebersamaan ini. Sementara itu, empat belas dari kami siap mengukir prestasi baru di perguruan tinggi negeri di tanah air, dan sisanya di perguruan tinggi swasta di Indonesia.
Dua armada masa depan telah dilepas melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ya, 3 Agustus 2015, armada pertama dilepas menuju Melbourne atas nama Adrian Surya. Dia akan melanjutkan studi di Melbourne University. Armada kedua dilepas tepat hari ini, 4 Agustus 2015 menuju United States of America atas nama Yosef Martin Pradipta yang akan melanjutkan studi di Indiana University. Masih akan ada lebih banyak momen perpisahan yang harus kami hadapi.
Perpisahan, selalu menjadi momen pahit yang tak mudah untuk dilupakan. Tetapi obat paling manjur adalah pil terpahit, bukan? Melepas kawan-kawan seperjuangan untuk masa depan. Semoga kita bisa terus berkarya, saling mengukir kesuksesan hingga suatu saat nanti, dengan bangga, kita bisa dentumkan diri kita sebagai bagian dari SOSIAL 15 Kolese Kanisius, Jakarta.
Ite Inflammate Omnia!
Selasa, 04 Agustus 2015
Sabtu, 27 Juni 2015
Catatan Pra Kuliah : Untuk Wanita yang Lahir di Hari Kasih Sayang
Secarik
kertas putih polos, tak akan bermakna apapun tanpa hadirnya tinta-tinta yang
bertebaran diatasnya, yang membentuk ratusan, bahkan ribuan mozaik. Tidak
hanya ada yang harmonis sehingga mampu
menyusun kata-kata penuh makna, tetapi juga ada yang tercoret dengan abstrak,
tanpa ada sesuatu makna pun yang mampu
diinterpretasikannya. Manusia ibaratnya satu rim kertas putih kosong yang siap
untuk dihujami tinta-tinta itu. Kita tidak pernah tahu, seperti apa guratan
pena yang merobek samudra putih kosong nan suci itu. Apakah kita akan diisi
dengan dokumen negara sangat rahasia? Atau kita hanyalah berguna sebagai scrap
paper semata? Toh semua itu masih menjadi misteri.
Bicara
tentang kehidupan. Kita sering dengan mudahnya membanding-bandingkan apa yang
kita miliki dengan yang orang lain miliki. Rumput tetangga memang selalu tampak
lebih hijau bukan? Kita selalu dengan mudahnya membicarakan apa yang orang lain
miliki, tanpa kita ketahui apa yang ada di balik itu semua. Entah senyumannya
yang membalut kepedihan hatinya, atau tawanya yang menyembunyikan tangisan pilu
nuraninya? Kita tak pernah tahu, kawanku.
Untuk
sahabatku yang akan segera melepaskan pijakan kakinya dari bumi pertiwi ini. Sahabatku
yang gemar mencurahkan segala kegalauan hatinya kepadaku. Kembali kutulis
catatan sederhana ini untuk engkau renungkan.
Sesungguhnya,
perpisahan ibarat pedang bermata dua. Tinggal mana yang engkau pilih. Apakah
mau kau gunakan untuk menjadi kekuatanmu? Atau kaugunakan untuk menghancurkan
dirimu? Ya, aku tahu, memang sedih ketika kita harus meninggalkan sejuta memori
indah yang kau rekam bersama dia. Memori yang kelak di masa mendatang bisa
menjadi duri dalam daging. Atau, bisa juga kau gunakan memori-memori indah itu
sebagai pelecut semangatmu dalam menggapai asa dan impian.
Sampai
detik ini, aku masih percaya bahwa engkau adalah wanita perkasa, yang masih
percaya akan mimpi. Kita bukanlah budak cinta yang terus terjerembab dalam
kesedihan dan kegalauan, meskipun bukan berarti kita menghalau cinta dari
kehidupan.
"Time is like a river, you cannot touch the same water twice"
Jadikanlah pengalaman pahit sebagai pembelajaran dan pengalaman manis sebagai bonus kehidupan
Jangan
lupakan: Gunung Prau dan Hokkaido
Jumat, 08 Mei 2015
Risalah Akhir Sekolah : Langkah Pertama (part 3)
Kata salah
satu iklan rokok, “Life is an adventure”. Akan tetapi bagiku, “Life is about
choices and challenges”. Ya, tantangan dan pilihan selalu muncul silih berganti
pada periode awal adaptasiku di komunitas SOS ’15 ini.
Pada suatu
senja, aku duduk di depan ruang guru sedang menunggu Ibu Dwi Hardjanti untuk
mengumpulkan tugas ekonomi. Tidak lama, Ibu Dwi keluar dari ruang guru. Aku pun
segera menghampiri dan menyerahkan tugas ekonomiku. Kami pun berbasa-basi
sejenak. “Rencana, mau jadi apa Le, kalau sudah besar nanti.”, tanya Ibu Dwi
kepadaku. Aku pun menerangkan kembali peristiwa saat pemilihan jurusan, konflik
dan peliknya ketika perdebatan dan argumentasi harus muncul saat menentukan
pilihan hidup. “Mungkin saja, ikut jejak mama, jadi akuntan. Hehehe….”, jawabku
ringan di akhir penjelasanku. Sejenak, Bu Dwi terdiam seperti mengenang memori
masa lampau yang sudah lama terpendam. “ Dulu, Kanisius punya nama besar dalam
dunia akuntansi di kalangan pelajar SMA. Tetapi itu dua puluh tahun yang lalu.
Setelah itu, kita vakum, hilang dari peredaran seperti ditelan bumi, hingga
detik ini.”, begitu kata Bu Dwi. Aku pun tertegun sejenak mendengar ceritera
beliau. Bagaimana seluk-beluk, pahit-manisnya perjalanan Ibu Dwi bersama Pak
Dirman dalam memoles anak-anak berkualitas dari Kanisius, hingga akhirnya, nama
besar itu harus kalah oleh tindakan-tindakan tidak jujur dan tidak adil. Terlintas
sejenak pemikiranku untuk menggali kembali pusaka yang telah terpendam
lama.
Aku selalu
terngiang-ngiang akan perkataan Romo Mintara kepada siswa-siswa SMP Kanisius, “You
are men on missions. You are the agent of change”. Aku sadar betul bahwa
kata-kata itu bukanlah wejangan semata, melainkan sebuah semangat yang dibangun
dalam jiwa setiap kanisian. Iseng, kucoba mencari kompetisi akuntansi yang
diselenggarakan di daerah Jakarta dan sekitarnya. Nah, ada satu kompetisi
bernama Olimpiade Akuntansi dan Pasar Modal tingkat nasional. Dari namanya
saja, sudah menunjukkan kelasnya sebagai kompetisi tingkat nasional.
Meskipun
dengan ilmu seadanya karena baru di awal pertengahan semester 1 kelas 11,
dimana baru 3 bulan belajar akuntansi, dengan sedikit keberanian, aku utarakan
ideku kepada Pak Dirman dan Bu Dwi tentang rencana mengikuti kompetisi ini.
Kuhubungi Pak Dirman terlebih dahulu karena memang beliau adalah guru pengampu
mata pelajaran akuntansi. Seperti kataku diawal, hidup tidak hanya soal pilihan,
tetapi juga soal tantangan. Maka, tantangan itu justru datang dari dalam
komunitas sendiri. Ya, penolakan dari sang guru. Alasan-alasan logis
dilontarkan secara bertubi-tubi. “Materi yang kalian pelajari masih terlalu
dangkal. Nanti kalau kalah bisa bikin malu Kanisius. Lomba akuntansi itu ga
mudah lho, butuh persiapan panjang”. Kuhitung mundur. Satu bulan persis untuk
mempersiapkan diri. Dengan keyakinan, aku pun berkata pada beliau, “Dengan
segala keterbatasan kami, pak, kami ingin mencoba.” Pak Dirman akhirnya
mengiyakan dengan syarat beliau tidak mau memberikan jam tambahan untuk
persiapan lomba ini.
Aku pun
mempertimbangkan kembali semua alasan-alasan Pak Dirman. Semua benar. Mungkin memang seharusnya aku
tidak mengambil keputusan ini. Maka selanjutnya pun, aku mencoba menghubungi
Ibu Dwi. Beliau sangat antusias dengan ide ini, dan beliau juga setuju untuk
membantu kami mempersiapkan materi-materi yang belum kami kuasai. Ah, satu
pintu lagi terbuka untuk mengejar mimpi ini.
Akhirnya,
dipilihlah enam pelopor yang bersedia dan mau untuk mencoba masuk kedalam dunia
yang sama sekali belum kami kenal. Yaitu dunia kompetisi akuntansi. Sore itu,
aku, Ais, Dave, Tata, Adrian, dan Hero bersama Ibu Dwi merancang sebuah master
plan untuk jadwal belajar untuk mengejar materi yang harus diselesaikan sebulan
kedepan. Ketika aku kilas balik kembali, kusadari betul bahwa master plan itu
bukanlah master plan biasa, tetapi adalah sebuah master plan untuk menggapai
sebuah mimpi. Keberhasilan adalah mimpi yang dipersiapkan.
Maka, sore itu kami
mulai menyusun kepingan mimpi-mimpi kami sebagai penggagas awal komunitas
akuntansi ini.
(to be continued)
Minggu, 03 Mei 2015
Catatan Pra Kuliah : Untuk Perempuan Berkaus Merah Muda
Waktu tak akan pernah berlalu dengan sia-sia. Tetapi kita bisa menyia-nyiakan waktu. Ada sebuah masa dimana manusia mampu bangkit dan tenggelam dalam warna-warna kehidupan. Tenggelam, menuai rasa sakit, yang kadang tidak terperi. Bangkit, oleh sebuah harapan yang pantas diperjuangkan.
Cinta itu adalah representasi dari hati yang dituangkan dalam gelombang transversal. Lewat gurun, lembah, gunung, bukit, dan samudra, serta berjuta kelokan yang entah tak jelas garis batasnya, kita semua terus berlari. Lari dari apa? Kadang kita pun tidak bisa mendefinisikan sesuatu yang mengejar kita. Atau, lari untuk apa? Kita pun sulit mendefinisikan untuk apa kita berlari. Setidaknya, janganlah lari dari kenyataan.
Hidup itu layaknya DAS. Ada yang dendritik, pinnate, annular, radial. Tergantung, tergantung dari topografi yang ada, tergantung dari latar belakang kisah kita, dan tergantung dari kemauan kita untuk membentuk pemikiran kita. Dendritik, ketika kita menyukai petualangan, ingin tahu banyak hal. Maka ada ribuan, bahkan jutaan pilihan atas cabang yang menunggu kita. Tetapi, tidak semua aliran bermuara baik, bukan?
Untuk sahabatku yang sedang dalam permenungan. Lewat fajar kita berharap, lewat senja kita berefleksi. Dan esok pagi, kita masih bisa melihat fajar yang sama. Dan semua itu terus berulang hingga akhir hayat. Ada jutaan ikan di lautan, ada siklus yang mengawali dan mengakhiri kehidupan terumbu karang. Ada miliaran pria di dunia ini, tetapi toh, hanya satu yang akan kau bawa pulang, bukan? Kalau kita sudah tahu akhirnya, buat apa kita terus menerus merenungkan hal yang sudah jelas? Atau mungkin ingin lihat prosesnya? Proses bukanlah tujuan, melainkan pembelajaran untuk mencapai tujuan itu. Samudra Pasifik hanya berjarak sepelemparan batu. Ya, 6.812 mil hanyalah jarak fisik. Tapi ada jarak hati, dan jika memang sudah digariskan, Mars dan Bumi pun hanya selangkah kaki.
Senin, 27 April 2015
Risalah Akhir Sekolah: Dinamika Empat Penjuru Mata Angin (part 2)
Satu, dua, tiga..... setidaknya, ada satu sampai tiga sahabat dekatku yang memiliki berbagai variasi argumentasi atas pilihanku menapaki jurusan IPS ini. Yang mendukung, kuhanya bisa ucapkan beribu terimakasih atas doa dan dukungannya. Yang menolak, aku hanya bisa bungkam seribu bahasa karena toh aku belum bisa membuktikan keberhasilanku di komunitas ini.
Sejujurnya, aku tidak pernah tahu akan mengambil jurusan apa di perguruan tinggi sebagai konsekuensi atas pilihanku ini. Ya, satu hal yang kulontarkan di awal yang cukup membuat geger adalah aku ingin masuk jurusan Psikologi.
Seiring berjalannya waktu, aku merasakan perubahan dalam diriku. Mulai kutemukan bakatku di salah satu bidang yang membuat orang tua ku bernapas lega. Ya, ulangan pertama akuntansi menjadi titik tolak dari penetapan tujuan hidupku ke depan. Berhasil memperoleh angka 80 pada ulangan pertama akuntansi. Aku sumringah, mencoba membuat sebuah dobrakan baru bagi komunitas ini. Namun lompatan itu akan kubahas nanti.
Komunitas SOS 15 adalah komunitas yang unik. Di awal masa kelahirannya, komunitas ini bahkan mulai melakukan segregasi. Tidak mudah memang menyatukan ke-38 karakter yang berbeda sehingga punya satu visi dan misi yang sama. Aku ingat betul bagaimana terkotak-kotakkannya komunitas ini. Ada kumpulan orang yang selalu bertingkah konyol, ada sekelompok orang yang sama-sama berminat untuk main game di kelas, ada sekelompok orang pencinta futsal, dan ada sekelompok orang yang senang pergi jalan-jalan dengan segala hedonismenya. Konsekuensi dari segregasi inilah yang membuat kami selalu berdinamika dan bergejolak.
Namun, segregasi ini menciptakan aura kompetisi yang maksimal. Kami berusaha untuk menggapai pelbagai prestasi terbaik, baik di bidang akademis maupun non akademis. Lomba menjadi salah satu sarana untuk membuktikannya. Aku terjun di 4 bidang sekaligus: Tenis meja, jurnalistik, mural, dan akuntansi. Keempat penjuru ini kujalankan beriringan satu dengan yang lain. Ya, resiko ini aku ambil sebagai sebuah konsekuensi akan sebuah prinsip, bahwa bukan yang terpandai yang akan menang, tetapi yang terberani dalam mengambil resiko dari setiap perjalanan hidup. Tahun pertamaku di SOS 15 kututup dengan penghargaan apresiasi non akademis yang menciptakan kebanggaan dalam diriku.
Seorang pemimpin tidak hanya excel di bidang akademis, tetapi juga mampu memiliki kepribadian yang kuat dan kemampuan non akademis yang memadai. Dari sinilah aku mulai belajar untuk menanamkan jiwa kepemimpinan dalam diriku secara lebih dalam melalui pelbagai perlombaan. Suka atau tidak suka, inilah salah satu faktor terbesar pembentuk kepribadianku,
Karena Kanisius, ....
A place where leaders of service are made
Sejujurnya, aku tidak pernah tahu akan mengambil jurusan apa di perguruan tinggi sebagai konsekuensi atas pilihanku ini. Ya, satu hal yang kulontarkan di awal yang cukup membuat geger adalah aku ingin masuk jurusan Psikologi.
Seiring berjalannya waktu, aku merasakan perubahan dalam diriku. Mulai kutemukan bakatku di salah satu bidang yang membuat orang tua ku bernapas lega. Ya, ulangan pertama akuntansi menjadi titik tolak dari penetapan tujuan hidupku ke depan. Berhasil memperoleh angka 80 pada ulangan pertama akuntansi. Aku sumringah, mencoba membuat sebuah dobrakan baru bagi komunitas ini. Namun lompatan itu akan kubahas nanti.
Komunitas SOS 15 adalah komunitas yang unik. Di awal masa kelahirannya, komunitas ini bahkan mulai melakukan segregasi. Tidak mudah memang menyatukan ke-38 karakter yang berbeda sehingga punya satu visi dan misi yang sama. Aku ingat betul bagaimana terkotak-kotakkannya komunitas ini. Ada kumpulan orang yang selalu bertingkah konyol, ada sekelompok orang yang sama-sama berminat untuk main game di kelas, ada sekelompok orang pencinta futsal, dan ada sekelompok orang yang senang pergi jalan-jalan dengan segala hedonismenya. Konsekuensi dari segregasi inilah yang membuat kami selalu berdinamika dan bergejolak.
Namun, segregasi ini menciptakan aura kompetisi yang maksimal. Kami berusaha untuk menggapai pelbagai prestasi terbaik, baik di bidang akademis maupun non akademis. Lomba menjadi salah satu sarana untuk membuktikannya. Aku terjun di 4 bidang sekaligus: Tenis meja, jurnalistik, mural, dan akuntansi. Keempat penjuru ini kujalankan beriringan satu dengan yang lain. Ya, resiko ini aku ambil sebagai sebuah konsekuensi akan sebuah prinsip, bahwa bukan yang terpandai yang akan menang, tetapi yang terberani dalam mengambil resiko dari setiap perjalanan hidup. Tahun pertamaku di SOS 15 kututup dengan penghargaan apresiasi non akademis yang menciptakan kebanggaan dalam diriku.
Seorang pemimpin tidak hanya excel di bidang akademis, tetapi juga mampu memiliki kepribadian yang kuat dan kemampuan non akademis yang memadai. Dari sinilah aku mulai belajar untuk menanamkan jiwa kepemimpinan dalam diriku secara lebih dalam melalui pelbagai perlombaan. Suka atau tidak suka, inilah salah satu faktor terbesar pembentuk kepribadianku,
Karena Kanisius, ....
A place where leaders of service are made
Sabtu, 25 April 2015
Catatan Akhir OIC : Belajar dari Kesalahan, Berubah dari Kesadaran, Berakhir dengan Kemenangan
Hari ini
menjadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku. Berdiri, dan
berkompetisi di panggung grand final Olimpiade Indonesia Cerdas, tidak pernah
ada di benakku sebelumnya. Bertanding di kompetisi sebesar dan sekaliber OIC
dengan membawa nama almamater di pundakku, ya aku tak pernah bermimpi
sebelumnya.
Aku selalu
berpegang pada suatu prinsip bahwa belajar itu bukan hanya dari buku dan
sekolah, tetapi dari pengalaman, dan kehidupan adalah sebuah proses, bukan
sebuah tujuan. Maka dari itu, meskipun aku bukan siswa terpandai di sekolah,
aku mau turun itu ikut ambil bagian dalam kegiatan OIC ini. Maka, menjadi
runner-up dalam kompetisi ini adalah sebuah anugerah yang sangat berharga dari
Tuhan. Kejayaan bukanlah milik mereka yang punya kepandaian, tetapi mereka yang
mau mengambil resiko, dan memperjuangkan segala konsekuensi dari resiko itu
untuk satu tujuan.
Bukan soal
juara 2, juara 1, atau juara 3 yang menjadi penekanan dari acara ini bagiku.
Yang terpenting adalah bagaimana ketika aku hidup, tumbuh, dan berproses di
dalam kegiatan ini sehingga menjadi salah satu faktor pembentuk kepribadianku.
Di babak
terakhir penyisihan daerah, SMA Kanisius dikalahkan oleh SMAN 61 Jakarta. Salah
satu kesalahan terbesar kami adalah tidak mempersiapkan pertandingan itu sama
sekali. Pertemuan kami dengan Edwin dkk untuk yang kedua kali di babak play off
kemarin menjadi titik tolak dimana kami mulai mempersiapkan diri dengan matang.
Ah, alhamdullilah, kami berhasil menjadi peringkat pertama dan melaju ke babak
grand final.
Satu hal
yang paling mengena di dalam hatiku adalah kata-kata Kak Erwin Parengkuan ketika
kami berhasil lolos di babak playoff. “Kalau kalian menang, moodnya bagus, itu
sudah biasa. Tetapi ketika kalian kalah, moodnya tetap bagus, inilah yang perlu
diangkat topi”. Aku mencoba menanamkan nilai tersebut di dalam hatiku.
Semenjak
mengikuti OIC Season 2, tanpa kusangka-sangka, semakin banyak lagi orang yang
mengenalku melalui perjumpaan di layar televisi. Aku senang karena semakin
banyak doa yang mengalir untuk mendukung SMA Kanisius. Melalui pengalaman ini,
aku mulai belajar untuk menghargai orang-orang banyak, meskipun sulit karena
semua notifikasi di semua sosial media yang kumiliki datang bagaikan tsunami
yang membuatku bingung untuk membalas semuanya.
Maka dari
itu, melalui tulisan ini, aku ingin berterimakasih kepada semua orang yang
telah mendukung kami tim SMA Kanisius. Kami tidak bisa membalas segala doa dan
dukungan kalian kecuali dengan rasa terimakasih kami yang sebesar-besarnya.
Kami juga
berterimakasih kepada semua orang yang terlibat langsung untuk mendukung kami
di studio maupun luar studio. Para mom’s CC, kak Joy, kak Zia, Kak Tolikin, Mas
Trie, Mas Cemong, Bang Ocep, dan seluruh kru yang tidak bisa kami sebutkan satu
per satu. Kami juga berterimakasih khususnya kepada Kak Nirina Zubir yang
selalu mendukung kami dengan mau digombalin oleh beberapa rekan kanisian, Kak
Ira Koesno yang selalu mengkritik kami sehingga kami selalu mawas diri dan
menjadi lebih terpacu untuk menjadi lebih baik, Kak Erwin Parengkuan, serta Kak
Shahnaz yang selalu memacu dan mensupport kami dengan berbagai kata-kata
mutiara yang membuat kami bangkit ketika kami jatuh. Salam untuk Charlotte dan
Pru J
Yang
terakhir, terimakasih kepada seluruh Keluarga Besar Kolese Kanisius, yang di
dalam suka dan duka kita saling membantu. Tak kenal putus asa, dengan gigih
terus maju. Dengan segala kekonyolan dan kelucuan, serta kepandaian dan
kebijaksanaan selalu ada di sisi kami. To be men for and with others.
Satu
catatan akhir yang perlu ditekankan, bahwa kemenangan ini bukanlah
kemenanganku, Widi, ataupun Bimo, tetapi merupakan kemenangan bagi seluruh
Keluarga Besar Kolese Kanisius, serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Semoga
Tuhan memberkati semuanya.
Mengutip
apa yang disampaikan oleh Alexander Michael, “Layar masih terkembang, dan
perahu tetap berlayar”. Begitupula hidupku, Widi dan Bimo. Ada ribuan tantangan
yang menunggu di depan, ada jutaan pilihan yang harus kami hadapi, tetapi
semuanya itu adalah sarana untuk mencapai tujuan manusia diciptakan, untuk
memuji dan memuliakan Tuhan (Latihan Rohani no. 23).
Mungkin OIC
Season 2 telah berakhir dan mungkin kemarin malam adalah terakhir kalinya kami
tampil di layar televisi. Ada perjumpaan, ada perpisahan, tetapi tidaklah afdol
ketika kita hanya melihat awal dan akhirnya saja. Alpha, tidak akan pernah
sampai pada Omega tanpa Beta dan kawan-kawannya. Semoga perjumpaan singkat
selama kurang lebih dua setengah bulan lalu bisa memberikan makna bagi semua
orang yang menyaksikan kami. Percayalah, bahwa doa kami selalu ada di hati
semua orang yang terlibat untuk mendukung kami. Hari ini adalah kenyataan, hari
esok adalah harapan. Jadikan hidup ini penuh makna.
AD MAIOREM DEI GLORIAM
Demi lebih besarnya kemuliaan Tuhan
Jumat, 17 April 2015
Risalah Akhir Sekolah : Awal yang Menggugah, Awal yang Menggubah (part 1)
Hidup
adalah bijih besi, yang diproses, ditempa, diubah bentuknya, serta ditambah
nilai gunanya. Tetapi layaknya besi, hidup juga terpapar oleh panasnya sinar
matahari, terhujam oleh butiran hujan yang tanpa kenal ampun masuk merasuk ke
dalam setiap rongga yang menganga dan mengubah bentuk dari yang tadinya
berguna, menjadi rongsokan.
Hidup
adalah sebuah proses, dan disinilah aku memulai sebuah titik penempaan paling
berarti sepanjang hidupku.
28 Juni
2013.
Ya,
setidaknya tanggal itulah yang tertera di rapor akhir kelas X-A semester 2. Di titik itulah aku telah
menentukan pilihanku. Jika ditelaah kembali ke belakang, banyak pergolakan yang
terus membuncah di kepalaku, serta banyak kegalauan dan kekhawatiran yang
menghantui hatiku. Kira-kira dua bulan sebelum penjurusan, aku sempat melontarkan
keinginanku untuk melanjutkan studi perguruan tinggiku di jurusan teknik kimia,
dan aku telah melakukan langkah yang salah. Di hari penentuan jurusan,
tantangan datang bertubi-tubi. “Kamu mau masuk teknik kimia, bukan? Sudah siap
masuk IPA dong?” Kata-kata itu yang terus diucapkan oleh kedua orang tuaku
berulang kali dalam perjalanan dari rumah menuju ke sekolah. Aku bungkam seribu
bahasa.
Setibanya
di depan gerbang almamaterku, aku disuguhi aneka ekspresi rekan-rekan
sejawatku. Bahagia dan puas, silih berganti dengan ekspresi kekecewaan dan
keputus asaan. Begitu juga dengan raut wajah para orang tua. Senyum, bergulir
bersama kemarahan dan rasa kesal. Rapor yang diterima beberapa waktu lalu
menjadi alasan mengapa mereka menyembulkan pelbagai ekspresi itu.
Ah, aku
cukup bersyukur karena setidaknya aku adalah sang pemilih, bukan yang dipilih.
Lepas dari apakah pilihanku sama dengan orang tuaku, semua masih menjadi
misteri hingga kami masuk ke ruangan luas yang terletak persis disamping patung
The Thinker yang selalu mengekspresikan raut kegalauan.
Tiga menit
selanjutnya berubah menjadi sebuah pergolakan batin antara tiga manusia yang
memiliki relasi terdekat ini. Layaknya segitiga bermuda, tiga titik yang tidak
bisa menyatu merepresentasikan apa yang terjadi di ruangan itu. Dua puluh menit
berargumentasi, aku pun menetapkan bahwa aku akan menjadi bagian dari keluarga
besar SOS ’15.
Dan aku
terus membayangkan petualangan apa yang akan terjadi dua tahun kedepan bersama
manusia-manusia sosial ini…
(bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)



