Senin, 23 Maret 2015

Catatan Perjalanan KRL : Mata Hati untuk Berbagi

GONDANGDIA-(20/3/2015). Siang yang biasa di Stasiun Gondangdia. Aku bersama para rekan sejawatku di SMA Kanisius kembali memasuki Stasiun ini untuk menggunakan moda transportasi yang biasa kami gunakan sepulang sekolah, KRL Commuter Line. Setelah melakukan aktivitas "biasa" disana, kami memutuskan untuk naik ke lantai 3 Stasiun Gondangdia alias ke area peron. 

Seperti biasa, kami ngobrol sembari menunggu kedatangan kereta JakartaKota-Bekasi ataupun JakartaKota-Bogor. Kebetulan saat itu, kereta menuju Bogor lebih dahulu tiba di Gondangdia sehingga aku memutuskan untuk naik kereta jurusan Bogor agar bisa tiba lebih cepat via Stasiun Tebet. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya kereta jurusan Bogor pun tiba. Aku pun melangkahkan kaki naik ke dalam gerbong dengan tergesa-gesa. Tak sadar, ada seorang pria tunanetra mencoba naik ke kereta. Beruntung, teman-temanku yang masih di peron membantu beliau untuk naik seraya memanggil namaku untuk membantu beliau mencarikan kursi. 

Aku menggandeng tangan bapak tersebut. Kegusaran beliau terlukis jelas dari raut wajahnya. Aku mencoba menanyakan tujuan beliau. Ternyata, beliau ingin pergi ke stasiun Depok. Kereta siang itu tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak sepi sehingga aku harus membawa sang bapak ke kursi prioritas di setiap pojok-pojok gerbong. Sementara ia duduk, aku berdiri disamping beliau, menatap wajahnya yang penuh harap. 

Perlahan, roda-roda KRL mulai bergulir. Stasiun demi stasiun pun dilalui dengan pasti. Tak terasa, aku pun hampir tiba di Stasiun Tebet, tujuanku. Aku pun segera pamit dengan sang bapak tunanetra itu. 

Kasih. Ya, walaupun hanya sekejap perjalanan Gondangdia-Tebet, aku ingin mencoba berbagi sesuatu yaitu kepedulianku dalam wujud perhatian. Terkadang, berbagi kasih tidaklah harus melalui sesuatu yang luar biasa. Lewat pengalaman sederhana, aku merasa Tuhan sedang bekerja menyentuh hatiku untuk lebih banyak lagi berbagi. 

Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk menyentuh hati nurani

Jakarta, 23 Maret 2015

Catatan Tengah Ujian : Senja di Stasiun Buaran

Terjebak dalam sebuah keadaan yang anomie

Mentari itu perlahan-lahan turun dari tahtanya. Ribuan manusia hilir mudik di sebuah peron yang tak cukup luas itu. Tua-muda, laki-laki maupun perempuan silih berganti keluar masuk dari pintu-pintu elektronik yang hanya dibuka dalam tempo waktu yang singkat. Aku pun berdiri di sebuah sudut, menanti sesuatu yang tak pasti. Mata menatap realita yang ada, tetapi mata hati berkeliaran menatap masa-masa silam. Punctum proximum dan punctum remotum menjadi kehilangan batasan ketika suara hati berkeliaran menguasai setiap sistem saraf. Ah, aku termenung di tengah elegi kehidupan. 

Jika Marx pernah berkata, agama hanyalah sebuah candu, maka aku dapat menarik kesimpulan bahwa mimpilah yang sesungguhnya sebuah candu. Andrea Hirata hanyalah satu dari sekian juta orang yang beruntung, dimana takdir selaras dengan kekuatan mimpinya. Tetapi tidak banyak manusia-manusia yang dianugerahkan beribu keberuntungan. Kulihat raut yang terpampang pada wajah manusia-manusia yang turun dari rangkaian kotak besi yang silih berganti datang dan pergi. Tergambar jelas banyak keriput yang melambangkan kebosanan akan rutinitas, ataupun kekecewaan yang tak terlepaskan. Gedung-gedung di kawasan CBD kota tiranopolis ini menjadi saksi bisu akan jahanamnya kehidupan. Tembok-tembok tempat menggantungkan papan-papan ilmu menjadi mata yang melihat kerasnya para penuntut ilmu disandera oleh kejamnya sistem yang diimplementasikan lewat kurikulum. Menilik realitas semacam ini, aku kembali bertanya. "Hai mimpi, apakah engkau nyata?"

Aku memutuskan untuk keluar dari peron Stasiun Buaran, dan berjalan menyusuri sisi stasiun yang bersebelahan dengan jalan raya. Langkah demi langkah, aku memperhatikan coret-coretan di dinding bawah Stasiun Buaran. Tembok yang penuh dengan ungkapan kekecewaan. Ah, hati ini kembali bergetar ketika kata-kata cinta yang mendayu-dayu tersembul diantara ungkapan yang lainnya. Terlalu sering hati ini terpapar sinar radiasi sehingga nikmat tak bisa lagi menanggung perih. Kapan? Kapankah hati ini mencapai perihelion, mengapa selalu terjebak dalam posisi aphelion? Sudahlah, tidak ada kata lagi yang sanggup merefleksikan keadaan sore itu. 

Kubiarkan semuanya berlalu tanpa kuketahui sesuatu yang pasti

Buaran, 13 Maret 2015

Catatan Tengah Ujian: Senja di Menteng Raya (Competence?)

Lorong ilmu itu nampak mulai kehilangan keriuh-rendahannya ketika matahari mulai berangsur turun dari atas kepala. Ya, satu per satu, para armada masa depan melangkah meninggalkan kolese kami. Hanya tersisa beberapa pasang mata yang masih setia dengan segala macam tugas dan tanggung jawabnya, yang rela tetap tinggal disana. Ketika itu, waktu menunjukkan pukul tiga petang. Di ruang yang "katanya" sarat akan penggemblengan "kepemimpinan ala Ignasian" itu, hanya tersisa lima manusia, antara lain ada Matheus dan William, kedua sahabat yang selalu menjadi inspirasi sekaligus antitesis bagiku. Karena kami sudah lelah, Matheus pun mengajak aku dan William untuk melepas penat di salah satu resto dekat sekolah kami. 

Kami bertiga berjalan menuju resto tersebut, dan langsung memesan menu yang paling sederhana, setidaknya cukup dan sesuai bagi kantong anak SMA seperti kami. Sambil menunggu pesanan, pembicaraan pun mulai dibuka. Mulai dari yang ngalor-ngidul, hingga yang idealis sekalipun terlontar menjadi topik pembicaraan kami. Dengan berapi-api, kami saling bicara soal visi dengan berlandaskan idealisme masing-masing. Ah, sungguh masa-masa paling bermakna ketika kami yang "katanya" calon pemimpin masa depan mulai saling beradu argumentasi karena ketidaksesuaian pendapat. 

Dari berbagai hal yang dibicarakan, ada satu yang meninggalkan kesan mendalam bagiku dalam perbincangan itu, tentang bagaimana 3C menjadi sesuatu yang ambigu bagi kanisian. Bicara soal competence bukanlah hal yang asing lagi di telinga para anggota kanisian. Tetapi kembali dipertanyakan, apakah esensi dari competence itu sendiri? Apakah competence adalah melulu soal nilai-nilai akademik? Tak pelak lagi, inilah konsepsi yang sudah tertanam di benak para kanisian. Ketika ditanya, apa itu competence? Jawabannya pun singkat: kepandaian, kepintaran, terutama dalam nilai-nilai pelajaran (akademik). Tetapi ketika kita menilik lagi lebih jauh makna competence yang sesungguhnya, nilai, kepandaian, dan kepintaran di bidang akademik hanyalah satu elemen kecil dari makna competence yang lebih hakiki. Bagiku, competence adalah soal kemampuan bernalar, berlogika, menyelesaikan masalah dengan cerdas dan cermat, efektif dan efisien. Mereka yang tidak memiliki nilai superior bukan berarti tidak memilikicompetence. Bagiku, competence skill terlihat jelas ketika ada kegiatan-kegiatan di sekolah, bagaimana kami para panitia berpikir keras menyelesaikan target-target dengan deadline yang menantang. Dan selanjutnya, competence tidak akan berarti apa-apa tanpa dikolaborasikan dengan dua "C" yang lain, conscience dan compassion. Maka dari itu, agak aneh ketika dalam pelajaran agama yang lalu, kami diminta membuat refleksi tentang masing-masing "C" yang ada secara terpisah-pisah. Apa artinya competence tanpa hati nurani dan kepedulian? 

Ah, lucu memang ketika kami para kaum muda mencoba membicarakan hal yang tidak pernah jelas ujung pangkalnya. Lucu ketika banyak dari kami yang sudah mengenyam pendidikan di Kolese Kanisius selama hampir tiga tahun, atau bahkan enam tahun, masih memaknai competence sebagai sesuatu yang identik dengan nilai akademik. Kembali kami pertanyakan, apakah proses penanaman nilai di SMA Kanisius sudah benar-benar dilakukan dengan baik, terutama dengan prinsip cura personalisnya? Apakah siswa hanya sekedar dicekoki materi-materi pelajaran setiap hari demi mempertahankan titel PERINGKAT PERTAMA UJIAN NASIONAL? Selanjutnya kita hanya tenggelam dalam popularitas semata, membanggakan alumni Kanisius dengan nama besarnya, padahal belum tentu mereka mendapatkan titik tolak kesuksesannya di kolese ini. Lalu, kemana larinya dua "C" yang lain? Terkubur dalam hijaunya rumput lapangan sepakbola?

Tak terasa hari sudah senja, matahari sudah kembali ke ufuk barat. Dua jam yang cukup berharga bagiku hari itu. Mungkin kami hanya tiga anak biasa yang berbicara hal-hal yang tidak biasai. Tetapi bagiku yang terpenting adalah kemauan untuk peduli dengan kenyataan dan permasalahan yang ada di sekitar kita. Bukan angkat tangan dan lari dari kenyataan, tetapi turun tangan dan bergerak memperbaiki masa depan. 

Untuk mengubah dunia ini hanya dibutuhkan KESANGGUPAN. Sekalipun kesanggupan itu datangnya hanya dari 1 (satu) orang saja; KESANGGUPANKU
-John Gowhere-

Di hari kasih sayang,
14 Februari 2015

Catatan Pasca Ujian : Senja di Utara Jakarta

Hati terasa sepi ketika melihat untaian aksara berbaris diatas selembar kertas putih. Terkesiap, sesuatu di dunia ini tak pernah ada yang pasti. Sejenak aku menghela napas sebelum kuputuskan untuk keluar dari ruang nestapa itu. Ah, satu cobaan yang kulewati lagi minggu ini.

Masa depan layaknya butir-butir pertanyaan ulangan akuntansi, terombang-ambing diantara dua kepastian. Remedial, atau lulus. Tetapi sayangnya hidup ini tak ada remedialnya. Terdesak didalam keadaan subsisten. Tetapi waktu terus bergulir dengan sadisnya tanpa pernah punya kasihan. Setiap detik memiliki jutaan arti yang tak pernah mampu diungkap oleh manusia.

Hidup itu layaknya sebuah bola yang dimainkan oleh seorang anak balita, yang menjadi representasi dari Tuhan. Dan kita adalah seekor tikus yang terjebak di dalam bola itu. Ketika bola itu ditendang, kita bisa terpental ke posisi puncak, atau bahkan terjerembab ke dasar bola itu.

Hari ini, aku melihat secercah harapan. Aku bukan lagi tikus di dalam bola. Hidup menjadi sesuatu yang penuh makna ketika syukur menjadi senapan untuk melawan setiap kesedihan, kemalangan, dan keputus asaan, serta harapan menjadi peluru yang siap menembus masa depan.

Di dalam segala kerisauan itu, aku berjalan melangkah, menatap masa depan. Aku ingin menantang angin, menerjang ombak, menembus setiap asa yang kubangun di dalam sebuah utopia kehidupan yang disebut cita-cita. Dan yang paling penting dari semuanya itu, aku diciptakan untuk menjadi garam dunia, yang larut tetapi tidak hanyut.

Bidukku kan kukayuh menyebrang samudra demi kandas di taman surga. 

7 Februari 2015

Minggu, 22 Maret 2015

Catatan Malam Natal: Sekotak Nasi di Lampu Merah

Malam Natal, merupakan salah satu hari paling sakral bagiku. Tidak hanya secara spiritual, aku disegarkan kembali tentang makna kelahiran Yesus sang penyelamat, tetapi dari segi sosial, malam natal merupakan saat dimana keluargaku berkumpul didalam makan malam, entah di rumah secara sederhana, ataupun sekedar santap malam di restoran sekitar Gereja. 

Malam itu, 24 Desember 2014, aku mengikuti misa malam natal di Kolese Kanisius. Sepulang misa, aku bersama keluargaku memutuskan untuk makan di salah satu restoran favorit kami di sekitaran Gondangdia. Hanya terucap rasa syukur karena aku hampir mencapai penghujung tahun 2014 dengan pelbagai pengalaman yang membangun setiap sisi dari pribadiku. 

Didalam perjalanan menuju rumah selepas makan malam, kami melewati pertigaan Salemba, dekat RS Sint Carolus dan RSUP Ciptomangunkusumo. Sambil menikmati alunan lagu-lagu natal dari Michael Buble, aku memperhatikan situasi jalanan malam itu. Tidak ramai, namun juga tidak terlampau sepi. Kerlap-kerlip lampu yang saling bergantian akibat rem dari mobil-mobil itu menciptakan sebuah harmonisasi yang indah di dalam imajinasiku. Ahh.., Christmas Eve....

Di dalam lamunanku, tiba-tiba aku tersentak dengan kehadiran seorang anak kecil membawa gitar kecil, mengamen dari satu mobil ke mobil lain, mencoba mengumpulkan receh demi receh. Hingga akhirnya, anak itu tiba di mobil samping kiriku. Tak kusangka, sang pengemudi tidak bersikap seperti pengemudi lainnya. Ia mengeluarkan sebungkus tas kresek berwarna merah berisi sekotak nasi. Aku tersentak, iseng, kubuka sedikit kaca jendela mobilku agar bisa melihat lebih jelas kejadian ini. Kulihat lebih lanjut lagi, seorang ibu berjilbab yang duduk di belakang sang sopir juga mengeluarkan beberapa lembar uang dua ribuan, dan sekotak nasi, lalu memberikannya kepada anak itu. Kudengar sang ibu sempat berbicara. "Ini dek, sesekali pas Natal, makan yang lahap ya...". 

Hatiku tersentuh oleh kejadian itu. Malam Natal, malam dimana sang juruselamat (menurut umat Kristiani) lahir. Malam dimana kami umat Kristiani merayakan salah satu hari sakral, entah dengan makan mewah bersama, atau pergi liburan. Tetapi terkadang kita lupa, bahwa masih banyak sesama manusia yang berkekurangan. Wajah cerah nan gembira anak kecil di lampu merah itu menjadi bukti nyata, buah cinta kasih yang telah ditanam oleh sang ibu dan bapak yang mau berbagi, meskipun sederhana, meskipun mereka sesungguhnya tidak merayakan Natal. Tetapi mereka memahami, esensi, inti sari dari Natal itu sendiri. Yaitu untuk membagi kabar sukacita kepada semua orang. Layaknya Yesus yang datang ke dunia membawa kabar suka cita. Bukan untuk mereka yang kaya raya, punya jabatan, atau bekerja di tempat suci. Tetapi buat mereka yang berkekurangan, yang terlantar, yang tersingkirkan. 

Malam itu, ibu berjilbab dan sang sopir yang memberikan sekotak nasi kepada sang pengamen cilik di lampu merah Salemba pada malam natal itu, adalah representasi Yesus yang datang dan mau mengetuk nurani dan kepedulianku. 

Catatan Tanpa Kategori: Hikayat Dua Manusia

"There ain't no mountain high enough
Ain't no valley low enough
Ain't no river wide enough
To keep me from getting to you"

Nada-nada dan lirik lagu tersebut terus bergeming di telingaku ketika sore itu, aku sedang asyik memandangi setiap guratan wajah yang terpampang melalui layar monitorku. Satu album penuh kusimpan baik-baik setiap potret diri yang bermunculan dari berbagai sumber. Bahkan, waktu pun tak mampu mengurai setiap partikel yang menggambarkan keindahan yang esensial darimu. 

Ah....
Apakah ini yang dinamakan cinta (?). Bahkan, deretan angka McLaurin pun tak sanggup mendefinisikan perasaan ini sebagaimana itu selalu mampu menyelesaikan setiap persoalan diferensial. Kunikmati setiap detik yang berdetak dari arloji diatas meja komputerku. 

Tiba-tiba saja, kuterima panggilan Skype dari sahabatku nun jauh disana. Ada apa gerangan? Malam itu, jam dinding di kamarku menunjukkan angka pukul 18.23. Jika kuhitung, dia mengajakku untuk bicara pada pukul 03.23 subuh waktu setempat. Kuterima panggilan darinya dan kutanyakan kabarnya. Ah, ratapan keputus asaan mewarnai setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Malam itu, langit pun serasa berubah menjadi biru melambangkan kesenduan yang dialami. Aku pun ikut terbawa emosi sesaat itu. Ya, bukan masalah sepele yang sedang kawan karibku hadapi. Cinta. Kembali engkau yang menjadi biang keladi dari kekacauan yang menimpa sahabatku ini. Cinta tak selamanya indah. Cinta tak selamanya penuh gairah. Cinta yang dialami sahabatku ini, justru membawanya pada kelabu yang merekah di lubuk hatinya. Dengan pengetahuan yang seadanya, kuluncurkan setiap aspirasi dan saran yang ada di otakku dengan penuh ke sok tahuan. Layaknya balon gas yang angkuh, mencoba menerka setiap alamat rumah dari para penunggangnya yang entah datang dari negeri utopia atau negeri lucifer. Kututup panggilan malam itu dengan kata "SABAR". 

Kulanjutkan kembali untuk memandangi untaian karya Tuhan nan indah melalui potret dirinya. Namun malam itu, hatiku sudah layaknya Planet Jupiter. Aku hanya bisa mengikuti kecamuk yang muncul dalam hatiku. Layaknya kisah Siti Nurbaya, ada pelbagai pergolakan yang muncul untuk memperjuangkan perasaanku. Ditanbah dengan kisah yang baru saja kudengarkan dari sahabatku membikin hatiku mulai tergerus oleh ranah koginitif yang dapat menghancurkan semangat yang sejak dulu kutanam. "Inikah yang dinamakan cinta?".

Playlistku berlanjut ke lagu berikutnya. Dan aku menyadari bahwa semangatku kembali tumbuh meskipun ada berbagai rintangan yang mungkin akan terus menerpa, sebab ada sebuah target yang ingin kucapai. 

"Seni kehidupan adalah ketika kita berjuang dalam situasi yang sulit". -Shirin Ebadi-

Climb every mountain,
Search high and low,
Follow every byway,
Every path you know.

Climb every mountain,
Ford every stream,
Follow every rainbow,
'Till you find your dream.

A dream that will need
All the love you can give,
Every day of your life
For as long as you live.

Climb every mountain,
Ford every stream,
Follow every rainbow,
Till you find your dream

Catatan Tengah Mid Semester: Pendidikan adalah Sebuah Ironi

"Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau"
-Soe Hok Gie-

Kutipan diatas merupakan sebuah seruan, sebuah pernyataan yang menampar (itupun kalau mereka masih punya kepekaan) mereka yang saat ini masih merasa diri sebagai satu-satunya sumber ilmu yang paling benar. Ironisnya, kondisi seperti ini ternyata kerap kali terjadi  di institusi pendidikan di Indonesia,  yang bahkan salah satunya pernah memberikan asupan ilmu nilai-nilai pendidikan bagi sang revolusionis muda ini, hingga saat ini. 

Pernyataan ini bukanlah sebuah gosip tak berdasar semata, tetapi nyata terjadi dan menimpa segelintir, atau bahkan sebagian kalangan kaum intelektualis yang haus akan ilmu. Buku paket yang harusnya menjadi sarana penunjang kegiatan pembelajaran, justru diperlakukan dan disikapi layaknya sebuah kitab suci. Bak seorang fundamentalis tulen, setiap titik dan koma yang ada disana harus disalin seidentik mungkin di lembar jawab ujian, atau remedial menjadi jalan yang harus ditempuh. Pertanyaannnya? Apakah kami, para armada masa depan ini diajarkan untuk hanya sekedar "menyalin" tanpa memahami pemaknaan yang sesungguhnya? Apakah institusi pendidikan dibangun hanya untuk menciptakan mesin-mesin penghafal tanpa nurani dan kemanusiaan?Atau justru arahnya, kami memang dididik untuk menjadi plagiator-plagiator kelas kakap? Tidak heran apabila ada kasus alumnus yang di DO dari universitas karena menjadi seorang plagiator skripsi ketika melihat realitas pendidikan yang ada ternyata memang seperti ini. 

Namun, ternyata tidak semua tenaga pengajar memiliki idealisme kuno seperti ini. Guru Bahasa Indonesia saya di SMA serta mantan guru PKn saya di SMP selalu mengajarkan setiap siswanya untuk bersikap kritis menyikapi setiap permasalahan yang ada. Sikap kritis akan selalu menjadi senjata ampuh untuk menghadapi kondisi sosial masyarakat kita yang kian carut-marut ini. Misalnya, ketika kita bicara soal, bagaimana ketika ideologi Pancasila tidak lagi sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa karena diubah menjadi ideologi tertutup, maka tidak cukup apabila kita hanya tahu apa ciri ideologi terbuka dan apa ciri ideologi tertutup. Tetapi lebih dari itu, kita perlu tahu apa yang menjadi latar belakang penciptaan suatu Ideologi bernafaskan Pancasila, realitas yang ada di masyarakat terkait dengan pemaknaan Pancasila, dan juga proyeksi ke masa depan apabila penyimpangan ini terjadi. Tentu ketiga hal ini tidak akan pernah bisa kita temukan di buku paket karena memang masalah yang dibahas adalah sebuah masalah yang kontekstual. Maka dari itu, penting bagi semuanya, baik siswa maupun staf pengajar untuk memahami masalah kontekstual yang ada di masyarakat supaya sikap kritis selalu bisa dikembangkan di dalam dunia pendidikan. Bukan hanya sekedar text book belaka. 

Menilik kembali apa yang disampaikan oleh Bapak Anies R. Baswedan beberapa waktu lalu dalam seminar pendidikan di SMA Kolese Kanisius, Integritas adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia untuk mencapai sebuah keberhasilan. Pertanyaannya, apakah seorang staf pengajar yang memiliki pemikiran yang tertutup sudah mengimplementasikan integritas dan sudah menjadi role model bagi orang-orang(suka atau tidak suka) yang menjadikan beliau panutan? 

Efek jangka pendeknya tentu akan banyak pemikiran-pemikiran brilian yang dipaparkan siswa di kertas ulangan, akan dihantam semena-mena saja dengan nilai-nilai yang menuntunnya menuju ke kelas remedial. Selain itu, akan terpupuk rasa benci yang akhirnya akan terakumulasi dan menimbulkan luka batin bagi banyak siswa yang diajarnya. Tetapi yang lebih menyesakkan lagi, dalam jangka panjang, para siswa secara sadar maupun tidak sadar akan dibimbing menuju kemunduran pemikiran. Siswa tidak diajak lagi untuk berpikir kritis dalam menganalisis situasi-situasi sosial yang konkret terjadi. Akibatnya, bahaya laten degradasi intelektualitas terus membayang-bayangi kaum muda saat ini. 

Dalam hemat saya sebagai seorang siswa biasa, diperlukan sebuah komunikasi yang intens antara siswa dengan staf pengajar terkait metode pembelajaran serta topik-topik yang hangat yang menjadi polemik masyarakat saat ini. Tidak cukup berhenti disana, tetapi dalam rubrik penilaian, siswa juga disosialisasikan apa yang menjadi kriteria-kriteria penilaian(terutama soal esai), supaya objektivitas dapat dirasakan baik guru dan siswa. Selain itu, soal-soal yang bersifat ambigu juga sebaiknya dipertimbangkan kembali apakah sudah sesuai. Terakhir, perlu diadakan audiensi-audiensi terjadwal supaya apa yang dijabarkan diatas dapat terealisasi. 

Mungkin sebagian pembaca bertanya-tanya, kalau mengkritik, kenapa tidak langsung ke orangnya saja. Maka saya tekankan, SUDAH. Dan ketidakpuasanlah yang didapatkan. Maka, ketika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja.