Minggu, 21 Februari 2016

Catatan Tengah Kuliah: Senja di Tepian Danau

Sebait larik, selintas aku mengingat wajah itu tanpa pernah berharap.

Satu per satu daun mulai berguguran di sisi danau itu
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore
Pikiranku setengah kosong, setengah terisi
Dipinggir danau, kulihat enam orang anak kecil bertubuh ceking sedang asik bermain
Lalu, lelaki tujuh puluh tahun sedang asik memainkan harmonikanya
Ah, sudah mau maghrib, kulangkahkan cepat kedua kakiku ke arah halte bikun Pocin
Tak lama berselang, bikun bernomor delapan itu pun tiba
Aku kembali terenyuh kala meninggalkan keenam anak kecil ceking itu
Bikun pun tiba di stasiun UI, dan aku membeli minuman seharga lima ribu rupiah
Tak lama menunggu, kereta pun tiba dan aku melompat kedalam gerbong kelima

Kisah sederhana sore itu menyisakan arti yang mendalam kala hati sedang sendu.
Kisah sederhana sore itu menjadi mozaik kecil yang melengkapi hidup
Ah, aku hanyalah kerikil, butiran pasir tak berarti dimata dunia

Untuk kisah yang tersimpan didalam angan
Untuk rasa yang tak pernah bisa terungkapkan

11 Kliwon 1949

Senin, 25 Januari 2016

Catatan Tengah Liburan : Semahal itukah Kejujuran?

Lahir dan dilepas dari sebuah proses pendidikan yang menjunjung tinggi nilai kejujuran bukanlah hal yang mudah. Dahulu, aku berjuang untuk mempertahankan kejujuran di lingkungan yang sangat mendukung hal yang sama. Pada masa itu, aku, bersama dengan ratusan rekan sejawat sama-sama memperjuangkan satu nilai yang masih tertanam dalam diriku hingga kini, "Be Honest!". Ya, aku sempat mencicipi pendidikan ala Ignasian di sebuah kolese Jesuit bernama Kolese Kanisius selama enam tahun. Selama enam tahun inilah aku semakin menyadari bahwa memperjuangkan kejujuran adalah hal yang tidak mudah.

Lulus dari Kolese Kanisius, aku menapaki langkah pendidikan berikutnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, yang merupakan salah satu kampus paling bergengsi di tanah air. Satu hal yang dapat kubanggakan saat hari pertama masa orientasi, adalah bahwa kampus ini juga menjunjung tinggi nilai kejujuran. Meskipun sanksi yang diberikan tidak sekeras sanksi pada masa SMA dulu, tetapi tetap saja ini menjadi bukti bahwa kejujuran adalah hal yang sudah disadari penting oleh kampus ini.

Aku bukan malaikat, apalagi dewa yang bisa seratus persen selalu bersikap jujur dalam setiap pikiran dan tindakan. Tetapi proses berjibaku selama enam tahun silam membuatku memiliki batasan-batasan perihal kejujuran yang tidak bisa ditoleransi. Tetapi untuk kasus menyontek, aku tidak bisa menerimanya. Menyontek adalah tindakan diluar batas. Menyontek adalah tindakan mencuri, mencuri buah pikir orang lain. Menyontek adalah tindakan mengklaim isi pikiran orang lain menjadi milik kita. Menyontek sama buruknya dengan plagiarisme. Menyontek adalah bibit menjadi calon koruptor. Aku teringat akan sebuah slogan yang kubaca beberapa waktu lalu dimading Fakultas Hukum Universitas Indonesia, "Muda plagiator skripsi, tua hobi korupsi". Menyontek dan plagiarisme adalah dua hal tercela yang tidak boleh dilakukan oleh seorang mahasiswa.

Tetapi, idealisme selalu berbenturan dengan realita yang ada. Pada satu momen yang sama, yaitu Ujian Akhir Semester, kulihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kejujuran seolah terinjak-injak. Dua mata ujian yang dilaksanakan yaitu Pengantar Bisnis dan Lab Bahasa Inggris, seolah tiada maknanya lagi. Nilai hanya menjadi tipu belaka. Kompetensi manusia tak lagi bisa dinilai dengan angka. Karena kejujuran seolah luruh dalam sekejap mata.

Aku memang bukan orang yang seratus persen jujur dan/atau seratus persen benar. Tetapi ada batasan-batasan moral yang seharusnya mampu dipahami oleh segenap mahasiswa, yang katanya merupakan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari kampus terbaik di Indonesia. Ketika nilai angka akademik menjadi sesuatu yang dimahakuasakan, maka seketika itu juga bangsa Indonesia akan jatuh, terkubur sampai lubang terdalam karena Ia tak bisa lagi mengandalkan pemuda-pemudinya.

Semoga pengalaman ini bisa menjadi refleksi bersama, khususnya bagi seluruh mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan di kampus-kampus ternama, agar menyadari bahwa nilai akademis bukanlah segalanya, melainkan nilai kehidupan adalah hal yang lebih pantas untuk diperjuangkan.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
"BE HONEST!"


Senin, 18 Januari 2016

Catatan Tengah Liburan : Sajak untuk Yang Tak Pernah Tergapai

Hidup adalah sebuah memorabilia
Mereka yang penuh dengan kenangan dan harapan
Seorang yang selalu duduk disudut ruang itu untuk bertanya
"Apakah aku masih ada dihatimu?"

Bait-bait ini akan penuh dengan segala ke-"aku"-an
Aku yang selalu tidur dalam buaian wajahmu
Aku yang terus bertahan dalam segala memori yang kita buat
Tanpa pernah tahu kenyataan yang ada dalam hatimu

Tetapi, sekedar kata "sayang" yang terucap sama tidak bergunanya dengan tindakan nyata tanpa tanda-tanda

Apakah aku harus menjadi seorang idiot?
Apakah aku harus menjadi seorang jenius?
Apakah aku harus menjadi idiot dan jenius sekaligus?
Atau tidak keduanya?

Aku tetap tidak bisa menggapai bintang itu
Dan aku tidak pernah berharap untuk melepas segala imaji tentangnya

Terinspirasi oleh film:
"Crazy Little Thing Called Love" dan "You Are The Apple of My Eye"

Minggu, 03 Januari 2016

Catatan Awal Tahun: Rintik Hujan Pertama di Januari

Hujan selalu menyisakan sebuah rasa yang esensial: sendu. Kesenduanku kembali muncul ketika tetesan itu jatuh ke ubun-ubunku. Tetesan yang sama yang kurasakan ribuan kali, bahkan jutaan. Sendu menjadi rasa yang utama, yang kembali mewarnai hari-hariku belakangan ini. Bukan tanpa alasan, tetapi juga dengan alasan yang penuh keabu-abuan.
Ahh...., semua tampak abu-abu bagiku.

Dia...
Wanita kesekian yang kembali membuatku kelu. Mengapa aku terlalu mudah menjatuhkan hati kepada seseorang? Hanya sesak yang terus berlabuh dalam pencampakkan ini.

Dia...
Wanita yang kembali merasuki relung hatiku tanpa pernah kuminta. Rasa ini hanya mengalir memasuki lubuk hatiku tanpa pernah kutahu cara untuk membuka kran pembuangan rasa. Menumpuk, membanjiri, hingga aku pun tenggelam dalam sebuah ironi.

Aku adalah seorang pengelana cinta yang tak pernah bisa menggapai barangkali seorang kekasih pun.

Diam seribu bahasa
Mencoba lari, lari dari kenyataan pahitnya kisah ini
Dan aku hanya berlari memutari dirimu yang tak pernah bisa sirna

Jakarta, 3 Januari 2016
 Tertanda,
Yang Terlupakan

Senin, 07 Desember 2015

Catatan Pra UAS: Senja yang Sendu di FEB UI

Sore itu aku sedang duduk di ruangan yang menjadi lokasi terindah bagiku untuk menikmati suatu sore yang tak begitu terik dengan semilir angin sepoi-sepoi. Di teras ruangan itu, ada tiga buah bangku panjang untuk bersantai lengkap dengan sebuah meja panjang untuk melengkapinya. Mungkin, sore hari itu sama seperti sore di hari-hari yang lain ketika sang surya perlahan mulai malu-malu untuk menunjukkan pancaran sinarnya. Tetapi khusus pada hari itu, pikiranku melayang tak terkendali, merasuk ke dalam titik nadir terdalam, hingga aku pun merinding akan kerinduan yang tak terperi.

Ruang KUKSA FEB UI menjadi saksi, dan sebuah arena perhelatanku. Bukan aku dengan seorang manusia lain, melainkan aku yang bergulat dengan pikiranku serta hatiku yang tersegmentasi menjadi dua sisi yang berlainan. Sisi yang satu menyatakan bahwa aku harus fokus dengan realita yang aku hadapi, yaitu aku adalah seorang mahasiswa FEB UI yang setiap harinya harus dihadapkan dengan pelbagai tugas dari dosen hingga rapat-rapat kepanitiaan yang semuanya cukup menguras energi. Ditambah lagi bahwa dalam waktu dekat aku akan menghadapi Ujian Akhir Semester. Tetapi ada sisi lain diriku yang terus meronta-ronta, memintaku untuk melepaskan dirinya yang sudah tak tahan dengan kerinduan ini. Ya, aku terserang rindu. Rindu akan seorang sahabat yang baru berpisah dariku kurang lebih lima bulan yang lalu. Aku hanyalah setetes tinta tanpa pena. Seonggok es batu tanpa minuman yang dapat kusegarkan. Memang, tiada pertemuan tanpa perpisahan, tetapi berpisah dan sekedar mengucapkan "Goodbye, see you on top" tidak pernah semudah membalik telapak tangan. Kami ditempa dalam kuali yang sama, berproses, membentuk idealisme kami masing-masing. Tetapi rasa-rasanya, baru kemarin kulihat senyum di wajahmu. Baru kemarin, aku mendengar racapanmu, guraumu, tawamu, amarahmu, hingga pesan perpisahanmu yang kuterima dengan selapang-lapangnya. Tetapi kini, rindu itu kembali berlompatan ditengah gurau dan tawa yang kulontarkan setiap hari kepada kawan-kawan baru. Satu hal yang pasti, aku masih rindu akan keberadaanmu.

Mentari mulai menyusut masuk di ufuk barat. Tak terasa, rintik hujan pertama jatuh dari kelabunya langit sore itu. Satu titik, dua titik, lima titik, puluhan, ratusan, hingga tak terhitung jumlahnya karena gerimis telah bertransformasi menjadi badai. Hatiku kembali berkecamuk. Hujan memang memberikan sensasi tersendiri bagi orang-orang yang melankolis. Tiba-tiba, seorang wanita yang telah lama kukenal menyambangi tempatku duduk menikmati sore yang sendu itu. Wajahnya tampak lelah, dengan terburu-buru, ia melepas sepatu dan masuk ke ruangan. Ada sebuah asa dan harapan yang tergores jelas di wajahnya. Ada mimpi-mimpi yang sedang berusaha ia gapai. Tiba-tiba, hatiku kembali bergelora akibat tatapan wajahnya yang begitu tajam. Ada rasa, ada sebuah keinginan bagiku untuk masuk ke dalam kesulitan-kesulitan terdalam hidupnya. Aku ingin menjadi garam di tengah tawar kehidupannya, aku ingin menjadi pelita pada titik-titik tergelap dalam hidupnya. Tetapi aku adalah aku, pria yang bahkan tidak pernah punya kemampuan untuk menyapa dirinya lebih dalam. Aku adalah butiran debu dalam kerasnya perhelatan asmara...

Kamis, 12 November 2015

Catatan Tengah Kuliah: Secercah Ide dari Sudut Ruang Kosong


“Hidup untuk nilai?”, atau “Nilai untuk hidup?”

Dua frasa ini menjadi landasan bagi kita untuk berefleksi tentang esensi kehidupan perkuliahan kita di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini. Sudah saatnya bagi kita semua, mahasiswa, sebagai ujung tombak perjuangan bangsa Indonesia ini dalam mempertahankan kemerdekaan untuk menilik kembali dan bertanya kembali, “Mengapa aku harus berada di kampus ini?”.

Tepat lima puluh enam tahun silam, seorang pemuda, manusia garda depan perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan ini, dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, memasuki babak baru dalam menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia , kampus perjuangan yang hingga detik ini menjadi wadah penggodokkan kita semua. Sutomo, atau lebih populer dengan sebutan Bung Tomo, sang tokoh dibalik peristiwa 10 November 1945 ini ternyata pernah mengenyam pendidikan dari wadah yang sama, seperti yang saat ini kita rasakan.

Lantas, apa yang menjadi penekanan bagi kita semua sehingga kita perlu belajar banyak dari beliau? Bung Tomo adalah sosok yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang sekadar nilai atau IPK belaka. Tidak bisa kita pungkiri bahwa pengalaman beliau puluhan tahun dalam mempertahankan kemerdekaan serta torehan prestasi beliau di berbagai bidang sudah lebih dari cukup daripada sekedar gelar sarjana semata. Tetapi ada satu poin penting yang pantas kita teladani dari kisah kehidupan Bung Tomo, bahwa beliau menuntut ilmu, untuk dibagikan kepada orang lain. Beliau menempatkan ilmu pengetahuan, sebagai material utama untuk membagikan inspirasi kepada kaum muda. Misalnya saja, dalam masa perkuliahan di FE UI, beliau sangat aktif dalam memberikan ceramah perjuangan kepada para siswa SMA, salah satunya di SMAN 3 Jakarta pada tahun 1966.

 Setiap niat yang baik, pasti akan menuntut pengorbanan. Semakin besar niatan baik tersebut, semakin besar pula pengorbanan yang harus dilakukan. Meskipun seorang Bung Tomo kerap kali mendapat predikat cumlaude pada setiap nilai ujiannya, beliau harus rela memasuki masa prayudisium setelah 22 tahun menyandang status sebagai mahasiswa FE UI. Bahkan, hingga ajal menjemput, toga pun tak sempat tersematkan di kepala sang orator ulung ini. Tetapi dampak yang beliau berikan kepada bangsa ini, bisa jauh lebih berharga ketimbang seorang ekonom yang menyandang gelar doktor, tetapi tidak pernah berkontribusi menyentuh batas kemampuan yang Tuhan anugerahkan kepadanya.

Ada sebuah pergeseran makna yang sudah lazim terjadi di kalangan mahasiswa FEB UI, bahkan seringkali menjadi tren tersendiri, bahwa IPK tinggi adalah segala-galanya sehingga sebagai mahasiswa, kita sering lupa bahwa peran kita adalah ujung tombak pembangunan bangsa. Bagaimana mungkin kita bisa membangun bangsa dan mempertahankan kemerdekaan, jika kita tidak pernah punya kepedulian terhadap orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa berbagi pengetahuan kepada ribuan anak jalanan yang terdampar di bawah kolong-kolong jembatan, atau di bantaran sungai, jika kawan kita, sesama mahasiswa, sendiri pun tidak pernah kita bantu. Atau bahkan, kita cenderung egois, menyimpan ilmu untuk diri kita semata. Mengubur talenta yang Tuhan miliki tanpa pernah menjadikannya berarti untuk orang lain? Apa esensinya kita berhasil memasuki salah satu fakultas ekonomi terbaik di Indonesia, tanpa pernah memahami esensi dan nilai guna dari ilmu yang kita peroleh, bahwa ilmu yang kita terima adalah bukan untuk diri kita sendiri, tetapi menjadi modal untuk memberikan impact positif bagi lingkungan sekitar kita?

Apakah tulisan ini adalah sebuah gugatan bahwa mahasiswa FEB UI bersikap seperti apa yang dipaparkan diatas? Bukan, tulisan ini menjadi sebuah refleksi bersama, sebuah correctio fraterna atas kehidupan lebih dari separuh semester yang kita alami di periode 2015/2016 ini. Apalagi, belum genap seminggu kita memperingati hari pahlawan. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnya kita mulai bertanya kembali kedalam hati kita, membulatkan tekad kita, sebenarnya, untuk apa aku berada di kampus ini.

Untuk berjuang? Atau untuk menelantarkan perjuangan itu sendiri?

Sumber: 
TEMPO, 9-15 November 2015 Edisi Khusus Hari Pahlawan.

Minggu, 18 Oktober 2015

Catatan Pra Ujian : Pancasila dan Substansi Penerapannya di Masyarakat

Ibarat sebuah rumah yang berdiri kokoh, walaupun terjaan angin topan dan hujan badai, Pancasila telah menjadi suatu fondasi yang begitu baik bagi Bangsa Indonesia yang secara keseluruhan merupakan refleksi dari para pendiri Bangsa Indonesia. Cita-cita mulia, sebuah ideologi yang mendasari segala bentuk kebudayaan, adat istiadat, dan pedoman hidup bagi seluruh rakyat Indonesia yang mengikat sejak nafas pertama dihembuskan. Pancasila adalah dasar dari setiap nafas di Bumi Pertiwi. 

Derasnya arus globalisasi modern pada zaman ini tentu saja mulai merasuki setiap unsur kehidupan Bangsa Indonesia. Terkait eksistensi Pancasila, pastinya ada banyak terpaan dan cobaan dalam menguji validitasnya. Quo vadis? Mau dibawa kemana Pancasila kita?

Eksistensi Pancasila yang masih bertahan dari sekarang adalah warisan turun temurun dari manusia pertama yang mendengar istilah tersebut. Oleh karena itu, meskipun diserang oleh terpaan ideologi-ideologi lain melalui terbukanya arus globalisasi dari dunia barat, Pancasila akan tetap diwariskan dari generasi ke generasi. Pancasila merupakan fondasi bangsa, dan sebagai fondasi, Pancasila akan terus dihidupi oleh masyarakatnya. Sesuai dengan Teori Stufenbau oleh Hans Kelsen, Pancasila adalah norma hukum yang paling mendasar bagi Indonesia (grundnorm). Dengan demikian, Pancasila tidak akan bisa hilang dari Indonesia.

 Pancasila secara tidak langsung telah terdoktrin dengan begitu efektif. Oleh karena itu, walaupun terjadi pergejolakan dan upaya-upaya pelengseran kedudukannya sebagai sumber hukum, Pancasila tetap bisa bertahan. Faktor yang lain adalah kurangnya wawasan masyarakat Indonesia pada masa itu tentang ideologi-ideologi lain selain Pancasila, sehnigga masyarakat saat itu terkesan "alergi" dengan ideologi-ideologi lain selain Pancasila. Namun yang perlu ditekankan disini adalah, dalam menanggapi kasus yang dimaksud, kita harus berpikir dengan sangat objektif dan senetral mungkin, karena sampai sekarang, sudah tidak ada lagi yang tahu pasti apa yang sebetulnya terjadi. 

Tetapi jangan senang dahulu. Yang menjadi masalah disini bukanlah eksistensi Pancasila sebagai suatu kata benda yang diturunkan dari seorang ibu ke buah hatinya secara turun temurun. Yang menjadi masalah adalah substansi penerapannya di Masyarakat. Bagaimana masyarakat Indonesia pada dunia modern ini melihat kehidupannya dalam konteks Pancasila, dan bagaimana Pancasila tersebut dikorelasikan dengan kehidupan sehari-hari Bangsa Indonesia, daripada sekedar menjadi beberapa patah kata yang diucapkan setiap upacara nasional. Pancasila ibarat sebuah pohon besar yang melindungi seluruh rakyat Indonesia dari sengat panas matahari. Akarnya kuat, tetapi sayang daunnya meranggas. Tidak bisa dicabut, tetapi tidak bisa memayungi juga. Disinilah pelajaran Pancasila menjadi penting dalam mengisi daun-daun yang meranggas tersebut. Untuk menumbuhkan kembali daun-daun yang telah meranggas pohon besar yang menaungi kita semua. Belajar Pancasila berarti belajar menjadi orang Indonesia.

Tulisan ini merupakan hasil olah pikir dari: Leonardi Ryan Andika (FEB UI 2015), Matheus Nathanael Siagian (FH UI 2015), dan Timoteus Hansen Alby Valen (DKV Binus University 2015)