Minggu, 22 Maret 2015

Catatan Awal Tahun Ajaran : Ketika Aku (Harus) Belajar...

Sudah menjadi rutinitasku yang baru bahwa setiap akhir Minggu, aku harus menyambangi wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara untuk "mempersiapkan diri menyongsong masa depan" (baca: Les). Begitu pula akhir Minggu ku kali ini. Tanpa sengaja, aku bertemu dengan salah satu sahabatku yang sangat aktif dan pintar. Sayang, karena satu dua faktor, tahun lalu, dia harus tinggal kelas. Sebut saja nama sahabatku ini dengan sebutan Milo. 

Dulu, sewaktu masih bersama-sama di kelas 10 dan 11, aku cukup dekat dengan Milo. Bahkan, di hari pengumuman ketidak-naikkan kelas, aku masih berdua dengan beliau hingga sore hari. Meskipun aku berbeda jurusan dengan beliau, kami tetap menjalin persahabatan yang cukup erat. 

Hari ini, secara tidak sengaja, aku berjumpa dengan Milo di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Kelapa Gading. Kami pun memutuskan untuk duduk sejenak hendak berbincang-bincang. Namun kali ini, tak seperti biasa. Milo mengeluarkan beberapa lembar soal latihan Matematika, lalu setelah sedikit berbasa-basi mulai mengerjakan soal-soal itu. Ah, aku pun tak mau kalah. Ku keluarkan buku Akuntansi yang memang secara tidak sengaja masih tertinggal di dalam tasku. 10 menit berlalu, kami berdua masih asyik dengan pekerjaan masing-masing, 20 menit.., hingga 30 menit berlalu. Akhirnya aku membuka pembicaraan dengan beliau. 

"Mil, kok lu sekarang jadi rajin, sih?". "Ah, bisa aja lu. Tapi emang iya sih, setelah gue pikir-pikir, ternyata emang kebanyakan anak vete emang berubah jadi rajin. Gue pikir-pikir, ada untungnya juga gue vete. Sekarang, gue bisa mempersiapkan diri untuk menapaki jenjang perguruan tinggi dengan lebih matang. Sekarang, gue ikut les bahasa Jerman. Gue jadi lebih memahami sebenarnya apa sih mimpi-mimpi gue, kemana tujuan gue selanjutnya, dan bagaimana cara merealisasikannya. ", paparnya demikian.  Aku tertegun sejenak mendengar jawaban yang begitu bersemangat. Ada sebuah mimpi, ada sebuah asa dan harapan dibalik keterpurukkan. 

Ketika kulihat kembali kedalam diriku, aku memang beruntung tidak harus tinggal kelas seperti Milo, tetapi berbicara soal optimisme, soal mimpi, dan soal perencanaan kedepan, kuyakin, diriku belum tentu sematang beliau. Terkadang, aku masih sering tidak paham, mengapa aku harus di"bombardir" dengan berbagai macam les-lesan yang sering membuatku frustasi. Sudah disekolah harus menghadapi materi pelajaran yang tidak mudah, pulang sekolah masih saja di"hajar" dengan berbagai materi perguruan tinggi yang menyusahkan dan membuat kepala terasa pening. Tetapi justru disinilah tantangannya. Sejauh mana aku mau berjuang. Sejauh mana aku bisa bertahan. Sejauh mana aku mampu untuk terus belajar, dan harus terus belajar. Aku belajar, karena aku tahu alasan kenapa aku harus belajar.  

Mil, aku memang perlu belajar banyak hal dari dirimu. Meskipun banyak orang meremehkan kekuranganmu, kau tetap panutanku.  

"Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sekalipun tidak pernah" -Donny Dhirgantoro-

Catatan Awal Ramadhan: "Minumnya di Dalam Saja, Ya..."

Minggu (29/6/2014) - Hari ini merupakan hari pertama bagi umat Muslim menjalankan ibadah puasa. Jakarta sebagai kota yang terkenal dengan pluralisme dan toleransinya menyimpan sejuta kisah untuk diceritakan. Salah satunya adalah pengalaman yang kualami pada hari ini.

Siang itu, udara di daerah Pademangan, Jakarta Utara cukup terik. Misa hari minggu baru saja usai. Aku beserta keempat rekanku memutuskan untuk membeli jus buah di belakang area Gereja. Dengan penuh sukacita karena bisa berkumpul untuk misa bersama teman-teman, kami berjalan menuju lokasi jus buah itu. Jaraknya kira-kira 50 meter dari pintu gerbang belakang Gereja Santo Alfonsus Rodriguez. 

Seperti layaknya anak remaja, kami saling berbagi cerita, melempar canda dan tawa sambil asyik menunggu pesanan jus buah. Aku memesan jus alpukat, dan teman-temanku memesan jus mangga serta belimbing. Tak lama setelah itu, selesailah satu gelas jus mangga. Sambil asyik mengobrol, dia mengambil jus tersebut dan menusukkan sedotan, lalu menyerusupnya di tengah terik matahari siang yang menyengat. Ahh.. sungguh segar......

Kemudian secara beruntun, selesai pula lah jus-jus lainnya, dan kami pun tak sabar untuk segera menghabiskannya. Satu-dua teguk pertama begitu terasa nikmat. Kemudian, muncullah seorang pastur yang tadi memimpin misa. Beliau berjalan keluar dari gerbang gereja menuju ke arah kami. Jelas beliau mengenal kami dan kami mengenal beliau karena tadi seusai misa kami sempat saling berbincang. 

Dengan penuh sukacita, kami pun menyapa beliau, "Siang Mo..., mau kemana?". Lalu sang pastur pun menjawab dengan tersenyum, "Mau kearah sana. Hari ini, hari pertama puasa bukan?", tanyanya setengah menyindir. "Nah, kalian jangan minum di tempat umum seperti ini, apalagi di tengah jalan dan di tengah teriknya matahari. Minumnya di dalam saja, ya... (sambil menunjuk ke arah gerbang Gereja). Tidak enak bukan apabila dilihat oleh saudara-saudara kita yang sedang menjalankan ibadah puasa." Sontak hatiku pun tergelitik. Perbuatan yang tidak kami sadari itu ternyata bisa mengganggu kenyamanan orang lain. 

Kita, terutama umat kristen ataupun umat agama minoritas lainnya seringkali mengeluh karena tingginya sikap intoleransi. Kita seringkali mengeluh karena merasa kurang diperhatikan, sering dirugikan, dan tertekan sebagai minoritas. Kita juga sering menuntut agar sebagai minoritas, lebih diperhatikan. Tetapi terkadang, kita kurang sadar pentingnya untuk juga menghargai orang lain. Dan yang lebih pelik lagi, kita sering menggembar-gemborkan kampanye untuk melawan tindakan intoleransi agama. Kita hanya memahami kulit luarnya, memahami teorinya, tetapi terkadang lupa akan esensinya yaitu praktek di kehidupan nyata. 

Sebuah pengalaman sederhana ini mengingatkan kita akan sulitnya menghormati dan menghargai orang lain. Tindakan-tindakan yang tidak disengaja, tidak disadari, seringkali terjadi. Dan hal-hal kecil semacam inilah yang memicu timbulnya gesekan-gesekan antar umat beragama. 

Kami berlima pun memutuskan untuk kembali memasukkan minuman kami ke dalam kantong plastik, berjalan menuju area Gereja, kemudian melanjutkan untuk menikmati jus buah kami. Sementara aku, hanya bisa termenung, dan kata-kata pastur itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. 

"Minumnya di dalam saja, ya..."

Catatan Tengah Ulangan Umum : Tawa Masih Ada

(22/05/2014) - Siang itu, cuaca kota Jakarta cukup terik. Jam menunjukkan pukul 11.00. Hari ini tidak seperti biasanya, aku memiliki kesempatan untuk pulang lebih awal karena merupakan hari pertama ulangan umum semester genap. Seperti biasa, dari sekolah, aku menuju ke Stasiun Gondangdia. Tidak seperti biasanya, siang itu aku memilih KRL Jakarta Kota jurusan Bogor ketimbang jurusan Bekasi. Perjalanan memakan waktu +/- 15 menit hingga aku tiba di Stasiun Tebet. Turun dari KRL, aku langsung mencari Metromini nomor 52 untuk melanjutkan perjalananku menuju rumah. Hiruk pikuk Stasiun Tebet merupakan pemandangan yang biasa bagiku karena aku sering menghadapi situasi ini. Setelah kutemukan Metromini 52, aku langsung naik dan tak lama kemudian, mesin Metromini itupun dinyalakan tanda kendaraan itu siap untuk jalan. 

Kernet Metromini dengan sigap naik melalui pintu belakang dan mengetokkan sebuah koin lima ratus rupiah ke pintu metromini yang terbuat dari fiber-glass. Pemandangan semacam ini normal-normal saja dimata pengguna metromini sepertiku sebagai moda transportasi utama. Tiba-tiba, ada seorang bapak tua mengejar metromini yang kutumpangi. Dengan santai dan tak peduli, sang kernet melempar uang dua ribuan ke jalanan sembari sang sopir menancap gas. Kulihat raut muka bapak tua itu, wajahnya menunjukkan keceriaan yang tulus. Beliau mengambil uang dua ribuan yang tadi dilemparkan sang kernet sambil melambaikan tangan dengan wajah tersenyum setengah tertawa.

"Siapakah dia?"

Ah, tak penting memang untuk menelisik lebih jauh. Bisa saja dia tukang minta-minta, bisa saja tukang parkir, ataupun pria penjaga tempat nge-tem Metromini disitu. Intinya bagiku, mungkin peran orang itu tidak penting. Mereka adalah bagian dari sisi kelam kota ini yang terlupakan. Namun, aku melihat ada secercah kebahagiaan di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan ini.

Metromini pun melaju dengan kecepatan tinggi, sembari angin dengan leluasa masuk melalui pintu belakang yang terbuka lebar. Semilirnya berhembus melewati kepalaku, sembari terasa merasuk kedalam relung hatiku. Sementara itu, aku pun duduk termenung di kursi paling belakang sambil terus memikirkan kejadian tadi. Di tengah kejamnya kehidupan terminal, di tengah tingginya kriminalitas, dan ditengah kerasnya kehidupan Kota Jakarta, tawa dan canda masih ada, memberikan kita secercah harapan untuk tetap merasa,

"Aku masih hidup". 

Perjuangan Takkan Berakhir Hari Ini (Sebuah Refleksi Akhir Tahun)

“Maunya apa sih? Gue maunya masuk IPA, malah ditulisnya IPS. Pokoknya gak mau tau,gue mau banding dan harus, kudu, wajib masuk IPA”. Ya, sekilas seperti itulah seruan dan gerutuan yang keluar dari mulut beberapa temanku seusai pembagian laporan nilai akhir tahun ajaran 2012-2013 siang tadi. Banyak yang mendapat nilai memuaskan, tetapi tidak sedikit juga yang memperoleh hasil yang mengecewakan. Ada teman-teman yang mendapat kesempatan untuk memilih program jurusan (IPA/IPS), ada yang mendapat hanya salah satu program jurusan, tetapi ada pula yang mendapat program jurusan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya masing-masing.

“Nasi sudah menjadi bubur”. Mungkin kutipan itulah yang kurasa tepat untuk menggambarkan keadaan yang terjadi hari ini. Apa yang tertera di laporan nilai itulah yang menjadi implementasi dari apa yang telah kita lakukan selama kurang lebih satu semester ini. Hasil baik ataupun buruk adalah kita sendiri masing-masing yang mengukirnya. Puas, ataupun tidak puas dengan hasil itu, harus diterima dengan lapang dada. Aku tertegun saat menyaksikan seorang ibu yang menjemput anaknya di parkiran motor siang tadi. Ketika anak itu menyerahkan laporan nilainya, ia berkata, “Maaf ma, hasilnya belum memuaskan, belum sesuai dengan apa yang aku dan mama harapkan. Aku harus masuk ke jurusan IPS karena nilai Fisikaku dibawah KKM. Maafkan aku ya ma.” Sejenak aku diam. Aku terbekukan oleh ketulusan dan keberanian anak itu untuk mengucapkan sebuah kejujuran. Ya, mengatakan sebuah kejujuran walaupun itu pahit. Lalu sang ibu pun berkata sambil mengelus rambut anak itu, “ Tidak apa-apa nak, kalau memang itu hasil akhirnya. Kamu telah memberikan usahamu, dan mama percaya walaupun mama melihat selama ini kamu kurang bisa untuk berkonsentrasi dalam belajar, kamu telah memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuanmu.” Aku setengah tidak percaya dan terpana melihat betapa bijaksananya, betapa lembutnya hati ibu itu. Memang benar, kejujuran akan berbuah manis. Mungkin itulah salah satu sikap yang diidam-idamkan oleh seluruh siswa terhadap orang tuanya, “memarahi” dengan cinta, dan kasih sayang. Sayangnya, aku yakin bahwa tidak semua orang tua bisa bersikap seperti itu. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, bahwa masih banyak orang tua yang memegang teguh paradigma yang lama bahwa, IPA lebih sukses daripada IPS.

Sehabis melihat peristiwa itu, aku kembali melihat kedalam diriku. Beruntung bagiku dan bagi sebagian teman-temanku yang masih diberi “kesempatan” untuk memilih program jurusan. Aku masih diberikan pilihan oleh Tuhan. Aku, sebagai seorang Kanisian. Apakah aku sudah memberikan yang terbaik dalam hal belajar? Sudahkah kepercayaan yang orang tua ku berikan, kumanfaatkan sebaik-baiknya, ku gunakan setiap fasilitas yang ada dengan bijaksana? Sulit memang untuk menjadi orang yang sempurna. Tetapi tidak sulit untuk mencoba, dan berusaha untuk menjadi sempurna.

Aku percaya, bahwa penentuan program jurusan ini bukanlah sebuah ending dari seluruh dinamika pembelajaran kita, dari proses pembelajaran kita bergulat dengan 17 mata pelajaran yang sungguh melelahkan di tahun pertama kita di kelas X SMA Kolese Kanisius ini. Tetapi, proses setahun yang telah kita lalui ini, adalah ajang untuk “mencari”. Setahun yang lalu, aku berada dalam masa-masa awal adaptasi dan hal yang paling meresahkanku adalah, mampukah aku beradaptasi dengan atmosfer, tradisi, dan situasi di kolese ini. Tetapi kini, yang menjadi tanda tanya besar adalah, mampukah aku mengembangkan diriku, dari segala aspek, baik competenceconsciencecompassion, maupun leadershipapapun program jurusan yang kudapat, apapun tantangan besar yang merintangi jalanku di depan.

Percayalah kawanku, perjuangan kita selama setahun kemarin adalah modal yang berharga bagi kita untuk menempuh jalan di depan. Jalan itu mungkin mempunyai dua cabang, tetapi pada akhirnya, cabang itu akan bermuara pada laut yang sama, “lautan kehidupan”, lautan yang penuh dengan kompetisi. Entah IPA atau IPS, entah baik ataupun buruk nilai yang kita peroleh, percayalah bahwa jalan panjang itu masih merentang. Kita belum terlambat, kawanku. Dan tetaplah menjadi orang yang “nakal”, tetaplah menjadi orang yang  “cerewet”, dan tetaplah menjadi orang yang “iseng” selama semua hal itu menjadi hal yang positif. Tetaplah menjadi diri kalian sendiri, dengan membawa nama baik Kanisius beserta nilai-nilai dan tradisi yang terkandung di dalamnya. Dan kawanku, aku hanya berharap bahwa janganlah kehidupan kita 2 tahun kedepan terkotak-kotakkan hanya oleh program  jurusan. Ingatlah, bahwa kita adalah angkatan CC ’15. Ingatlah selalu akan canda  dan tawa kita, di kala teman kita di bugilin di kelas, saat kita bernyanyi tak karuan diiringi oleh gitar dengan suara sumbang, seperti apa atmosfer kompetisi yang membaur dengan persahabatan saat Kenari Cup diadakan, dan bagaimana kita dengan “haus”nya memperhatikan pelajaran di kelas.

“Layar masih terkembang, dan perahu tetap berlayar”. Apapun program jurusan yang kita pilih, tetap junjung ciri khas dan tradisi angkatan kita. Tetaplah menjadi diri kita masing-masing. Tetap optimis, tetap bergerak maju, dan TETAP SEMANGAT !

"Kami Satu, dalam suka duka, cinta kasih, dan persaudaraan " 

Di Hari Penerimaan Laporan Nilai
13 Juni 2013

Antara Uang dan Passion

“Mau masuk jurusan apa?”, tanya seorang guru BK kepada salah satu siswa kelas X. “Belum tahu nih pak, saya masih galau ”, jawab anak itu. Itulah sepintas dialog-dialog sederhana yang kerap kali terjadi pada saat beberapa minggu menjelang kenaikan kelas, atau menjelang penjurusan bagi kelas X. Ya, suatu konsep kurikulum yang mengharuskan kita untuk memilih. Pilihan yang rumit, vital, dan beresiko. Pilihan yang akan menentukan masa depan kita selanjutnya, di jenjang pendidikan selanjutnya, hingga ke jenjang dunia kerja. Terlepas dari konsep kurikulum di Indonesia yang tergolong masih “prematur”, kita tetap harus memilih. Satu diantara dua. IPA atau IPS.

Sebagai siswa kelas X, aku masih bingung untuk menentukan pilihanku sendiri. Paradigma masyarakat yang memiliki konsep bahwa anak IPA lebih sukses daripada anak IPS membuat orang tua kita menyarankan kita baik secara halus ataupun keras untuk masuk jurusan IPA. Tak perlu munafik, terkadang kita pun terbawa dalam paradigma masyarakat itu sendiri hingga pada akhirnya kita pun akan condong dan akan memaksakan memilih IPA.

Kolese Kanisius, yang disebut-sebut sebagai “sarang”nya orang pilihan yang konon memiliki kelebihan di bidang akademis telah membuktikan fakta diatas. Perbandingan kelas IPS dan IPA (1:5) yang terpaut jauh menunjukkan tingkat popularitas jurusan IPA yang mendominasi jurusan IPS. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sebagai siswa laki-laki, jurusan IPA lebih diminati karena pada dasarnya laki-laki menyukai ha-hal yang baru dan menyukai kegiatan-kegiatan eksperimen, jurusan IPA lebih menjanjikan prospek di dunia kerja, dan juga dari segi finansial, dunia kerja dari jurusan IPA lebih bisa mendatangkan uang . Namun, apabila kita tinjau lebih dalam lagi, apakah memang benar antara IPS dan IPA memiliki tingkat perbedaan yang sejomplang itu?

Menurut pengamatanku, IPA adalah saat dimana Anda berpikir (matematis, logika, perhitungan), tetapi IPS adalah saat dimana Anda berkarya (analisa sosial, diskusi, laporan pengamatan). Ya, ketika Anda belajar Fisika, Anda akan belajar hal-hal sederhana yang di “rumit”kan. Contohnya, ketika pelajaran pesawat sederhana, Anda harus menghitung besar gesekan yang terjadi apabila Anda mendorong sebuah kardus dengan jarak sekian. Tentu hal-hal semacam ini tidak terlalu dibutuhkan dalam dunia nyata kecual Anda mau jadi ahli Fisika, bukan? Tetapi apabila Anda belajar Sosiologi, Anda akan mengenal konsep-konsep baru mengenai penyimpangan seksual seperti zoofilia, genteroseksual, dll.

Bicara soal IPS, ternyata anak IPS juga bisa sesukses, atau bahkan lebih sukses dari anak IPA, lho. Contoh konkretnya, adalah Bpk. Chatib Basri, salah satu alumnus Kolese Kanisius yang menjadi Menteri Keuangan saat ini ternyata pada waktu SMA mengambil jurusan IPS. Untuk memilih jurusan IPS, diperlukan niat, tekad, dan passion yang kuat. Butuh semangat sebagai seorang yang berjiwa sos, yang punya hasrat untuk menganalisa dari sudut pandang sosial. Dalam memilih pekerjaan pun, hanya dengan passion yang sungguh-sungguh, maka karya kita akan menjadi bermanfaat bagi orang lain. Jadi, buat apa kita takut untuk memilih jurusan IPS apabila memang sesuai dengan passion kita?

Akhir kata, masalah pemilihan jurusan tidak bisa diremehkan. Ini menentukan pilihan kita di masa depan. Kembali lagi, untuk memilih jurusan yang tepat, tidak hanya ditimbang dari faktor nilai saja, tetapi juga lewat refleksi yang menggambarkan perjalanan kita selama setahun. Ya, kasarnya, antara IPA dan IPS, adalah antara uang atau passion. Tetapi terlepas dari hal itu, kita harus tetap memilih dan sebagai Kanisian, kita harus tetap memegang prinsip bahwa apa yang kita pilih, apa yang kita lakukan, semua hanya demi lebih besarnya kemuliaan Tuhan semata. –Ad Maiorem Dei Gloriam-

Jakarta, 10 Juni 2013

Kamis, 18 April 2013

Antara Cinta dan Harapan

Pernah gak sih, kalian merasa ada sesuatu yang baru yang muncul secara cepat dan tiba-tiba di dalam hati kalian tanpa kalian inginkan dan kalian ga tau apa yang harus kalian perbuat untuk menghadapi ini. Ketika hal itu datang, kalian akan merasakan kenikmatan yang begitu mendalam, tetapi ketika hal itu pergi, kalian akan merasakan sakit yang melebihi sakit fisik sekalipun.

Dalam dunia ini, ada begitu banyak hal, entah positif maupun negatif. Energi positif itu seperti cinta dan harapan. Dan energi negatif yang akan melawan kedua hal itu adalah kebencian dan pengkhianatan. Bagaimana seandainya cinta dan harapan muncul di dalam hati kalian secara tiba-tiba di saat yang memang benar-benar tidak kalian inginkan. Di saat kalian harus fokus ke hal-hal yang penting dan di saat deadline kalian begitu mengejar-ngejar, serta begitu banyak hal yang menyita waktu kalian, namun cinta sekejap muncul di dalam hati kalian.

Cinta adalah suatu hal yang tidak bisa terdefinisikan. 

Cinta bisa muncul dimana pun, kapan pun, dan dalam situasi apapun. Cinta bisa muncul di tempat-tempat yang tak terduga. Bahkan berawal dari rasa sebal dan kesal, cinta pun bisa muncul. Sungguh aneh memang kalau kita bicara soal cinta. Dan ketika cinta itu disempurnakan oleh harapan, semuanya seperti surga dalam dunia.

Cinta yang hakiki adalah cinta yang tidak mengenal batas (usia, status, ras, suku, agama).

Dan ketika cinta itu muncul di dalam hati kalian, kalian tak akan bisa melawannya..........


Rabu, 03 April 2013

Kalau Anda Pencinta Sepak Bola, Anda Wajib Baca dan Teruskan Tulisan Ini

Saya hanya me repost tulisan yang dibuat oleh Bambang Pamungkas, salah satu legenda hidup sepakbola Indonesia yang pada bulan ini memutuskan untuk "gantung sepatu". Mungkin diantara kita banyak yang bertanya-tanya mengapa seorang Bepe yang memiliki ketajaman yang luar biasa di lini depan timnas Garuda, harus pensiun di tengah pergulatan persepak bolaan Indonesia.

Dan Inilah Jawabannya.......


“Pada dasarnya setiap manusia itu sama, yang membedakan mereka adalah cara berpikir, bersikap, bertindak serta bereaksi setiap individu terhadap segala permasalahan yang menghampiri mereka.”

22 Maret 2013

Malam sudah cukup larut, waktu menunjukkan pukul 23:35 malam. Dari jendela tampak di luar tengah turun hujan. Hanya gerimis memang, tapi cukup untuk membuat udara malam ini menjadi semakin dingin. Sebuah sosok berperawakan sedang bertelanjang dada, tengah duduk terpaku di pojok sebuah ruangan. Dalam suasana remang-remang di sebuah apartemen di jalan Rue de Caumartin, Paris.

Tatapan matanya kosong, raut wajahnya tampak beku, pikirannya jauh melambung membelah dingin dan basahnya langit malam ini. Dengan rambut acak-acakan serta kumis dan jenggot yang tampak mulai memanjang tak beraturan, membuat wajah orang ini tampak lusuh dan sedikit lebih tua dari umurnya.

Lelaki tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah Bambang Pamungkas. Iya, lelaki itu adalah saya sendiri. Sudah lama saya membuat keputusan ini, dan sudah lama pula sebenarnya saya ingin menulis artikel ini. Akan tetapi entah mengapa, hati saya masih merasa begitu berat untuk sekedar menyampaikannya kepada khalayak ramai.

Hingga tiga hari yang lalu, di mana saya menerima sebuah kabar menyedihkan dari jarak 11.574 kilometer dari sini. Sebuah “peristiwa” yang sejujurnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan diri saya. Namun, kejadian tersebut membuat saya meyakini, bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menyampaikan kepada masyarakat, mengenai masa depan saya.

Awalnya saya pikir semuanya akan berjalan dengan mudah. Tinggal merangkai kata, upload ke blog pribadi dan kemudian menyebarluaskan melalui akun twitter saya. Selesai perkara. Tetapi pada kenyataannya tidak semudah yang terpikir di benak saya. Butuh waktu lama untuk pada akhirnya saya berani untuk menulisnya. Padahal keputusan ini sudah saya ambil sejak empat bulan yang lalu. Iya, sejak empat bulan yang lalu.

Bagi mereka yang memperhatikan penampilan saya di perhelatan Piala AFF 2012, maka sejatinya ada hal yang tidak biasa tersaji di sana. Ketika itu pada detik-detik terakhir, saya memutuskan untuk menggunakan nama “PAMUNGKAS”, dari pada “BAMBANG” seperti yang biasa saya kenakan di jersey tim nasional saya.

Tentu hal tersebut bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Indonesia, kata pamungkas memiliki arti “menjadi yang terakhir”. Maka begitu pula dengan perjalanan karier saya bersama tim nasional. Saat itu saya memutuskan bahwa pagelaran Piala AFF 2012 akan menjadi penampilan resmi terakhir saya, bersama tim nasional Indonesia.

Bergabungnya saya ke tim nasional Indonesia ketika itu, bukanlah menjadi sebuah pilihan yang mudah. Pilihan yang saya ambil tersebut, bertentangan dengan kebijakan klub yang saya bela Persija Jakarta. Dan juga institusi di mana klub saya berafiliasi, dalam hal ini Liga Super Indonesia dan KPSI.

Pilihan tersebut jelas bukan tanpa risiko, baik bagi saya secara pribadi maupun masa depan karier sepakbola saya. Banyak orang yang menganggap saya ingkar janji, tidak sedikit yang menganggap saya sebagai seorang pengkhianat. Akan tetapi saya adalah saya, pribadi yang selalu berusaha untuk berkata benar jika memang benar, dan mengatakan salah jika memang demikian adanya, dengan apa pun risikonya.

Sesaat setelah latihan perdana bersama skuad tim nasional Indonesia, jelang AFF Cup 2012. Di sebuah pancuran air Gelora Bung Karno, saya berkata kepada salah satu sahabat saya. Keputusan saya untuk bergabung dengan tim nasional bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan. Karena saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya jika saya tidak melakukannya. Dan setelah itu saya akan berhenti untuk selamanya.

Hal tersebut juga telah saya sampaikan kepada staf Badan Tim Nasional Indonesia. Oleh karena itu, ketika nama saya kembali masuk dalam daftar pemain untuk Kualifikasi Piala Asia 2015, saya menolak untuk hadir.

Berani mengambil sikap dengan apapun hasil dari pilihan yang kita ambil, adalah dua hal yang berbeda. Mengambil sebuah keputusan murni berada di tangan setiap individu. Sedang hasil dari keputusan yang kita ambil acap kali tergantung dari banyak hal, termasuk kehendak dari sang Maha Pencipta.

Sebagian orang berpikir bahwa saya sudah gila, karena mengorbankan seluruh reputasi dan karier saya, demi sebuah tim yang sudah diprediksi banyak orang akan mengalami kegagalan. Sebagian lagi berpikir saya salah melangkah, karena pada akhirnya tim nasional Indonesia harus kembali tersungkur dan bersimbah darah, di AFF Cup 2012.

Mereka berpikir saya telah merusak kredibilitas dan reputasi dengan menumpahkan tinta hitam di atasnya. Tetapi, tidak demikian bagi saya pribadi. Saya merasa telah mengakhiri perjalanan panjang bersama tim nasional, dengan sebuah kebanggaan dan kehormatan, setidaknya sebagai sebuah pribadi yang merdeka.

Rasa terima kasih dan hormat saya yang setinggi-tingginya, saya ucapkan kepada seluruh komponen tim nasional Indonesia di Piala AFF 2012. Orang-orang yang dalam segala keterbatasan dan tekanan publik yang begitu hebat, tetap berdiri di garda paling depan untuk memperjuangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia melalui sepakbola.

Dengan apa pun hasilnya, menjadi sebuah kebanggaan besar bagi saya mengakhiri karier tim nasional saya, bersama rekan-rekan semua. Mati sebagai pemain tim nasional (pensiun) dengan cara seperti itu, membuat saya merasa sangat bahagia. Berjuang sampai titik darah penghabisan atas nama bangsa dan negara, dengan segala kendala dan risiko yang harus dihadapi, membuat saya merasa telah mati dengan cara yang sangat terhormat.

Terima kasih yang tidak terhingga untuk seluruh pendukung tim nasional Indonesia di manapun berada. Mereka yang dengan fanatisme luar biasa dan tak kenal lelah, selalu berdiri di belakang panji-panji tim nasional Indonesia. Mereka yang selalu bernyanyi, menari, dan berteriak menyemangati dalam setiap perjuangan saya bersama tim nasional Indonesia. Tidak lupa permohonan maaf saya yang sebesar-besarnya, karena selama karier saya bersama tim nasional Indonesia, tidak sekalipun saya mampu memberikan kebahagiaan untuk kalian semua.

Tanggal 23 Maret 2013, merupakan hari bersejarah bagi sepakbola Indonesia, khususnya tim nasional. Karena setelah sekian lama terbelah menjadi dua, pada hari itu tim nasional Indonesia kembali berada di bawah satu berdera. Dan untuk pertama kalinya setelah cukup lama, stadion utama Gelora Bung Karno kembali memerah dipenuhi pendukung militan tim nasional Indonesia.

Dengan atau tanpa muatan tertentu, langkah penyatuan tim nasional Indonesia layak diberi apresiasi positif yang setinggi-tingginya. Setidaknya, di dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, ternyata masih ada rasa sebangsa dan setanah air. Walaupun mungkin kesepakatan tersebut, dilandasi oleh negosiasi-negosiasi tertentu.

Sedangkan bagi saya pribadi, melihat para pemain nasional kembali bergairah untuk memenuhi panggilan negara dan bersatu kembali dalam satu bendera tim nasional Indonesia, tentu menjadi sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Bukankah hal tersebut yang selama ini “kita” perjuangkan bersama-sama?

Menjadikan kembali tim nasional Indonesia sebagai representasi kekuatan terbaik sepakbola di Indonesia. Mengembalikan kesakralan sebuah tim nasional, yang akhir-akhir ini disepelekan oleh orang-orang yang bertindak atas nama kepentingan-kepentingan tertentu. Serta menjadikan kembali Gelora Bung Karno sebagai tempat yang angker bagi siapapun tim lawan yang hadir di sana, dengan suasana riuh serta gegap gempita dari seluruh pendukung merah-putih. Itu adalah hal yang selalu kita perjuangkan, selama dua tahun terakhir.

Selamat berjuang untuk talenta-talenta terbaik sepakbola Indonesia. Kibarkanlah panji-panji kebesaran sepakbola kita setinggi-tingginya. Bermainlah untuk dirimu, orang-orang yang kamu cintai (keluarga), dan lambang Garuda di dadamu (rakyat Indonesia).

Keputusan ini mungkin mengingkari janji saya sendiri tiga belas tahun lalu, janji setia saya kepada tim nasional Indonesia. Akan tetapi dengan segala dinamika dan pergolakan yang terjadi dalam sepakbola Indonesia, selama dua tahun terakhir. Membuat saya merasa yakin, jika sekarang adalah saat yang tepat bagi saya untuk melakukannya. Lagi pula dengan nama-nama mumpuni di barisan depan tim nasional Indonesia saat ini, rasanya tenaga saya sudah tidak lagi terlalu dibutuhkan.

Saya mengawali tiga belas tahun karier saya bersama tim nasional dengan sebuah harapan besar, dan mengakhirinya dengan sebuah kemenangan besar. Sebuah kemenangan dari segala bentuk pemaksaan kehendak terhadap diri saya. Kemenangan diri saya atas nama sebuah kebebasan untuk mengungkapkan pendapat, menentukan sikap, serta bertindak atas nama sebuah hal yang saya yakini akan kebenarannya.

Boleh saja orang menilai saya sebagai seorang pengkhianat dari kelompok saya, tetapi satu hal yang pasti, bahwa saya tidak pernah mengkhianati hati dan profesi saya. Sebuah profesi yang sangat saya cintai dan banggakan, sebagai pemain sepakbola.

Pada akhirnya saya memang harus menerima kenyataan, bahwa tidak ada satu gelar bergengsi yang mampu saya berikan untuk Indonesia. Dan oleh karena itu seperti yang pernah saya janjikan, maka di akhir artikel ini saya akan berteriak dengan lantang, jika “Saya Adalah Generasi Yang Gagal.”

Melalui tulisan ini, maka secara resmi saya menyatakan mundur dari tim nasional Indonesia.

“Cepat atau lambat, jersey merah-putih itu pasti akan tanggal dari badanku. Akan tetapi satu hal yang pasti, lambang garuda itu akan tetap melekat di dada kiriku, tinggal di sana sampai akhir hayatku.”

“Garuda di Dadaku, Garuda Kebanggaanku”

Selesai….

NB: Tulisan ini saya buat pada 22 Maret 2013

-Bambang Pamungkas-

Jadi, masihkah anda ingin mengatakan bahwa Bambang Pamungkas berada dalam generasi pesepak bola yang gagal? Bertanyalah, apa yang dapat ku berikan bagi negaraku. Bukan, apa yang negaraku dapat berikan bagiku.