Senin, 23 Maret 2015

Catatan Tengah Ujian: Senja di Menteng Raya (Competence?)

Lorong ilmu itu nampak mulai kehilangan keriuh-rendahannya ketika matahari mulai berangsur turun dari atas kepala. Ya, satu per satu, para armada masa depan melangkah meninggalkan kolese kami. Hanya tersisa beberapa pasang mata yang masih setia dengan segala macam tugas dan tanggung jawabnya, yang rela tetap tinggal disana. Ketika itu, waktu menunjukkan pukul tiga petang. Di ruang yang "katanya" sarat akan penggemblengan "kepemimpinan ala Ignasian" itu, hanya tersisa lima manusia, antara lain ada Matheus dan William, kedua sahabat yang selalu menjadi inspirasi sekaligus antitesis bagiku. Karena kami sudah lelah, Matheus pun mengajak aku dan William untuk melepas penat di salah satu resto dekat sekolah kami. 

Kami bertiga berjalan menuju resto tersebut, dan langsung memesan menu yang paling sederhana, setidaknya cukup dan sesuai bagi kantong anak SMA seperti kami. Sambil menunggu pesanan, pembicaraan pun mulai dibuka. Mulai dari yang ngalor-ngidul, hingga yang idealis sekalipun terlontar menjadi topik pembicaraan kami. Dengan berapi-api, kami saling bicara soal visi dengan berlandaskan idealisme masing-masing. Ah, sungguh masa-masa paling bermakna ketika kami yang "katanya" calon pemimpin masa depan mulai saling beradu argumentasi karena ketidaksesuaian pendapat. 

Dari berbagai hal yang dibicarakan, ada satu yang meninggalkan kesan mendalam bagiku dalam perbincangan itu, tentang bagaimana 3C menjadi sesuatu yang ambigu bagi kanisian. Bicara soal competence bukanlah hal yang asing lagi di telinga para anggota kanisian. Tetapi kembali dipertanyakan, apakah esensi dari competence itu sendiri? Apakah competence adalah melulu soal nilai-nilai akademik? Tak pelak lagi, inilah konsepsi yang sudah tertanam di benak para kanisian. Ketika ditanya, apa itu competence? Jawabannya pun singkat: kepandaian, kepintaran, terutama dalam nilai-nilai pelajaran (akademik). Tetapi ketika kita menilik lagi lebih jauh makna competence yang sesungguhnya, nilai, kepandaian, dan kepintaran di bidang akademik hanyalah satu elemen kecil dari makna competence yang lebih hakiki. Bagiku, competence adalah soal kemampuan bernalar, berlogika, menyelesaikan masalah dengan cerdas dan cermat, efektif dan efisien. Mereka yang tidak memiliki nilai superior bukan berarti tidak memilikicompetence. Bagiku, competence skill terlihat jelas ketika ada kegiatan-kegiatan di sekolah, bagaimana kami para panitia berpikir keras menyelesaikan target-target dengan deadline yang menantang. Dan selanjutnya, competence tidak akan berarti apa-apa tanpa dikolaborasikan dengan dua "C" yang lain, conscience dan compassion. Maka dari itu, agak aneh ketika dalam pelajaran agama yang lalu, kami diminta membuat refleksi tentang masing-masing "C" yang ada secara terpisah-pisah. Apa artinya competence tanpa hati nurani dan kepedulian? 

Ah, lucu memang ketika kami para kaum muda mencoba membicarakan hal yang tidak pernah jelas ujung pangkalnya. Lucu ketika banyak dari kami yang sudah mengenyam pendidikan di Kolese Kanisius selama hampir tiga tahun, atau bahkan enam tahun, masih memaknai competence sebagai sesuatu yang identik dengan nilai akademik. Kembali kami pertanyakan, apakah proses penanaman nilai di SMA Kanisius sudah benar-benar dilakukan dengan baik, terutama dengan prinsip cura personalisnya? Apakah siswa hanya sekedar dicekoki materi-materi pelajaran setiap hari demi mempertahankan titel PERINGKAT PERTAMA UJIAN NASIONAL? Selanjutnya kita hanya tenggelam dalam popularitas semata, membanggakan alumni Kanisius dengan nama besarnya, padahal belum tentu mereka mendapatkan titik tolak kesuksesannya di kolese ini. Lalu, kemana larinya dua "C" yang lain? Terkubur dalam hijaunya rumput lapangan sepakbola?

Tak terasa hari sudah senja, matahari sudah kembali ke ufuk barat. Dua jam yang cukup berharga bagiku hari itu. Mungkin kami hanya tiga anak biasa yang berbicara hal-hal yang tidak biasai. Tetapi bagiku yang terpenting adalah kemauan untuk peduli dengan kenyataan dan permasalahan yang ada di sekitar kita. Bukan angkat tangan dan lari dari kenyataan, tetapi turun tangan dan bergerak memperbaiki masa depan. 

Untuk mengubah dunia ini hanya dibutuhkan KESANGGUPAN. Sekalipun kesanggupan itu datangnya hanya dari 1 (satu) orang saja; KESANGGUPANKU
-John Gowhere-

Di hari kasih sayang,
14 Februari 2015

Catatan Pasca Ujian : Senja di Utara Jakarta

Hati terasa sepi ketika melihat untaian aksara berbaris diatas selembar kertas putih. Terkesiap, sesuatu di dunia ini tak pernah ada yang pasti. Sejenak aku menghela napas sebelum kuputuskan untuk keluar dari ruang nestapa itu. Ah, satu cobaan yang kulewati lagi minggu ini.

Masa depan layaknya butir-butir pertanyaan ulangan akuntansi, terombang-ambing diantara dua kepastian. Remedial, atau lulus. Tetapi sayangnya hidup ini tak ada remedialnya. Terdesak didalam keadaan subsisten. Tetapi waktu terus bergulir dengan sadisnya tanpa pernah punya kasihan. Setiap detik memiliki jutaan arti yang tak pernah mampu diungkap oleh manusia.

Hidup itu layaknya sebuah bola yang dimainkan oleh seorang anak balita, yang menjadi representasi dari Tuhan. Dan kita adalah seekor tikus yang terjebak di dalam bola itu. Ketika bola itu ditendang, kita bisa terpental ke posisi puncak, atau bahkan terjerembab ke dasar bola itu.

Hari ini, aku melihat secercah harapan. Aku bukan lagi tikus di dalam bola. Hidup menjadi sesuatu yang penuh makna ketika syukur menjadi senapan untuk melawan setiap kesedihan, kemalangan, dan keputus asaan, serta harapan menjadi peluru yang siap menembus masa depan.

Di dalam segala kerisauan itu, aku berjalan melangkah, menatap masa depan. Aku ingin menantang angin, menerjang ombak, menembus setiap asa yang kubangun di dalam sebuah utopia kehidupan yang disebut cita-cita. Dan yang paling penting dari semuanya itu, aku diciptakan untuk menjadi garam dunia, yang larut tetapi tidak hanyut.

Bidukku kan kukayuh menyebrang samudra demi kandas di taman surga. 

7 Februari 2015

Minggu, 22 Maret 2015

Catatan Malam Natal: Sekotak Nasi di Lampu Merah

Malam Natal, merupakan salah satu hari paling sakral bagiku. Tidak hanya secara spiritual, aku disegarkan kembali tentang makna kelahiran Yesus sang penyelamat, tetapi dari segi sosial, malam natal merupakan saat dimana keluargaku berkumpul didalam makan malam, entah di rumah secara sederhana, ataupun sekedar santap malam di restoran sekitar Gereja. 

Malam itu, 24 Desember 2014, aku mengikuti misa malam natal di Kolese Kanisius. Sepulang misa, aku bersama keluargaku memutuskan untuk makan di salah satu restoran favorit kami di sekitaran Gondangdia. Hanya terucap rasa syukur karena aku hampir mencapai penghujung tahun 2014 dengan pelbagai pengalaman yang membangun setiap sisi dari pribadiku. 

Didalam perjalanan menuju rumah selepas makan malam, kami melewati pertigaan Salemba, dekat RS Sint Carolus dan RSUP Ciptomangunkusumo. Sambil menikmati alunan lagu-lagu natal dari Michael Buble, aku memperhatikan situasi jalanan malam itu. Tidak ramai, namun juga tidak terlampau sepi. Kerlap-kerlip lampu yang saling bergantian akibat rem dari mobil-mobil itu menciptakan sebuah harmonisasi yang indah di dalam imajinasiku. Ahh.., Christmas Eve....

Di dalam lamunanku, tiba-tiba aku tersentak dengan kehadiran seorang anak kecil membawa gitar kecil, mengamen dari satu mobil ke mobil lain, mencoba mengumpulkan receh demi receh. Hingga akhirnya, anak itu tiba di mobil samping kiriku. Tak kusangka, sang pengemudi tidak bersikap seperti pengemudi lainnya. Ia mengeluarkan sebungkus tas kresek berwarna merah berisi sekotak nasi. Aku tersentak, iseng, kubuka sedikit kaca jendela mobilku agar bisa melihat lebih jelas kejadian ini. Kulihat lebih lanjut lagi, seorang ibu berjilbab yang duduk di belakang sang sopir juga mengeluarkan beberapa lembar uang dua ribuan, dan sekotak nasi, lalu memberikannya kepada anak itu. Kudengar sang ibu sempat berbicara. "Ini dek, sesekali pas Natal, makan yang lahap ya...". 

Hatiku tersentuh oleh kejadian itu. Malam Natal, malam dimana sang juruselamat (menurut umat Kristiani) lahir. Malam dimana kami umat Kristiani merayakan salah satu hari sakral, entah dengan makan mewah bersama, atau pergi liburan. Tetapi terkadang kita lupa, bahwa masih banyak sesama manusia yang berkekurangan. Wajah cerah nan gembira anak kecil di lampu merah itu menjadi bukti nyata, buah cinta kasih yang telah ditanam oleh sang ibu dan bapak yang mau berbagi, meskipun sederhana, meskipun mereka sesungguhnya tidak merayakan Natal. Tetapi mereka memahami, esensi, inti sari dari Natal itu sendiri. Yaitu untuk membagi kabar sukacita kepada semua orang. Layaknya Yesus yang datang ke dunia membawa kabar suka cita. Bukan untuk mereka yang kaya raya, punya jabatan, atau bekerja di tempat suci. Tetapi buat mereka yang berkekurangan, yang terlantar, yang tersingkirkan. 

Malam itu, ibu berjilbab dan sang sopir yang memberikan sekotak nasi kepada sang pengamen cilik di lampu merah Salemba pada malam natal itu, adalah representasi Yesus yang datang dan mau mengetuk nurani dan kepedulianku. 

Catatan Tanpa Kategori: Hikayat Dua Manusia

"There ain't no mountain high enough
Ain't no valley low enough
Ain't no river wide enough
To keep me from getting to you"

Nada-nada dan lirik lagu tersebut terus bergeming di telingaku ketika sore itu, aku sedang asyik memandangi setiap guratan wajah yang terpampang melalui layar monitorku. Satu album penuh kusimpan baik-baik setiap potret diri yang bermunculan dari berbagai sumber. Bahkan, waktu pun tak mampu mengurai setiap partikel yang menggambarkan keindahan yang esensial darimu. 

Ah....
Apakah ini yang dinamakan cinta (?). Bahkan, deretan angka McLaurin pun tak sanggup mendefinisikan perasaan ini sebagaimana itu selalu mampu menyelesaikan setiap persoalan diferensial. Kunikmati setiap detik yang berdetak dari arloji diatas meja komputerku. 

Tiba-tiba saja, kuterima panggilan Skype dari sahabatku nun jauh disana. Ada apa gerangan? Malam itu, jam dinding di kamarku menunjukkan angka pukul 18.23. Jika kuhitung, dia mengajakku untuk bicara pada pukul 03.23 subuh waktu setempat. Kuterima panggilan darinya dan kutanyakan kabarnya. Ah, ratapan keputus asaan mewarnai setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Malam itu, langit pun serasa berubah menjadi biru melambangkan kesenduan yang dialami. Aku pun ikut terbawa emosi sesaat itu. Ya, bukan masalah sepele yang sedang kawan karibku hadapi. Cinta. Kembali engkau yang menjadi biang keladi dari kekacauan yang menimpa sahabatku ini. Cinta tak selamanya indah. Cinta tak selamanya penuh gairah. Cinta yang dialami sahabatku ini, justru membawanya pada kelabu yang merekah di lubuk hatinya. Dengan pengetahuan yang seadanya, kuluncurkan setiap aspirasi dan saran yang ada di otakku dengan penuh ke sok tahuan. Layaknya balon gas yang angkuh, mencoba menerka setiap alamat rumah dari para penunggangnya yang entah datang dari negeri utopia atau negeri lucifer. Kututup panggilan malam itu dengan kata "SABAR". 

Kulanjutkan kembali untuk memandangi untaian karya Tuhan nan indah melalui potret dirinya. Namun malam itu, hatiku sudah layaknya Planet Jupiter. Aku hanya bisa mengikuti kecamuk yang muncul dalam hatiku. Layaknya kisah Siti Nurbaya, ada pelbagai pergolakan yang muncul untuk memperjuangkan perasaanku. Ditanbah dengan kisah yang baru saja kudengarkan dari sahabatku membikin hatiku mulai tergerus oleh ranah koginitif yang dapat menghancurkan semangat yang sejak dulu kutanam. "Inikah yang dinamakan cinta?".

Playlistku berlanjut ke lagu berikutnya. Dan aku menyadari bahwa semangatku kembali tumbuh meskipun ada berbagai rintangan yang mungkin akan terus menerpa, sebab ada sebuah target yang ingin kucapai. 

"Seni kehidupan adalah ketika kita berjuang dalam situasi yang sulit". -Shirin Ebadi-

Climb every mountain,
Search high and low,
Follow every byway,
Every path you know.

Climb every mountain,
Ford every stream,
Follow every rainbow,
'Till you find your dream.

A dream that will need
All the love you can give,
Every day of your life
For as long as you live.

Climb every mountain,
Ford every stream,
Follow every rainbow,
Till you find your dream

Catatan Tengah Mid Semester: Pendidikan adalah Sebuah Ironi

"Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau"
-Soe Hok Gie-

Kutipan diatas merupakan sebuah seruan, sebuah pernyataan yang menampar (itupun kalau mereka masih punya kepekaan) mereka yang saat ini masih merasa diri sebagai satu-satunya sumber ilmu yang paling benar. Ironisnya, kondisi seperti ini ternyata kerap kali terjadi  di institusi pendidikan di Indonesia,  yang bahkan salah satunya pernah memberikan asupan ilmu nilai-nilai pendidikan bagi sang revolusionis muda ini, hingga saat ini. 

Pernyataan ini bukanlah sebuah gosip tak berdasar semata, tetapi nyata terjadi dan menimpa segelintir, atau bahkan sebagian kalangan kaum intelektualis yang haus akan ilmu. Buku paket yang harusnya menjadi sarana penunjang kegiatan pembelajaran, justru diperlakukan dan disikapi layaknya sebuah kitab suci. Bak seorang fundamentalis tulen, setiap titik dan koma yang ada disana harus disalin seidentik mungkin di lembar jawab ujian, atau remedial menjadi jalan yang harus ditempuh. Pertanyaannnya? Apakah kami, para armada masa depan ini diajarkan untuk hanya sekedar "menyalin" tanpa memahami pemaknaan yang sesungguhnya? Apakah institusi pendidikan dibangun hanya untuk menciptakan mesin-mesin penghafal tanpa nurani dan kemanusiaan?Atau justru arahnya, kami memang dididik untuk menjadi plagiator-plagiator kelas kakap? Tidak heran apabila ada kasus alumnus yang di DO dari universitas karena menjadi seorang plagiator skripsi ketika melihat realitas pendidikan yang ada ternyata memang seperti ini. 

Namun, ternyata tidak semua tenaga pengajar memiliki idealisme kuno seperti ini. Guru Bahasa Indonesia saya di SMA serta mantan guru PKn saya di SMP selalu mengajarkan setiap siswanya untuk bersikap kritis menyikapi setiap permasalahan yang ada. Sikap kritis akan selalu menjadi senjata ampuh untuk menghadapi kondisi sosial masyarakat kita yang kian carut-marut ini. Misalnya, ketika kita bicara soal, bagaimana ketika ideologi Pancasila tidak lagi sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa karena diubah menjadi ideologi tertutup, maka tidak cukup apabila kita hanya tahu apa ciri ideologi terbuka dan apa ciri ideologi tertutup. Tetapi lebih dari itu, kita perlu tahu apa yang menjadi latar belakang penciptaan suatu Ideologi bernafaskan Pancasila, realitas yang ada di masyarakat terkait dengan pemaknaan Pancasila, dan juga proyeksi ke masa depan apabila penyimpangan ini terjadi. Tentu ketiga hal ini tidak akan pernah bisa kita temukan di buku paket karena memang masalah yang dibahas adalah sebuah masalah yang kontekstual. Maka dari itu, penting bagi semuanya, baik siswa maupun staf pengajar untuk memahami masalah kontekstual yang ada di masyarakat supaya sikap kritis selalu bisa dikembangkan di dalam dunia pendidikan. Bukan hanya sekedar text book belaka. 

Menilik kembali apa yang disampaikan oleh Bapak Anies R. Baswedan beberapa waktu lalu dalam seminar pendidikan di SMA Kolese Kanisius, Integritas adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia untuk mencapai sebuah keberhasilan. Pertanyaannya, apakah seorang staf pengajar yang memiliki pemikiran yang tertutup sudah mengimplementasikan integritas dan sudah menjadi role model bagi orang-orang(suka atau tidak suka) yang menjadikan beliau panutan? 

Efek jangka pendeknya tentu akan banyak pemikiran-pemikiran brilian yang dipaparkan siswa di kertas ulangan, akan dihantam semena-mena saja dengan nilai-nilai yang menuntunnya menuju ke kelas remedial. Selain itu, akan terpupuk rasa benci yang akhirnya akan terakumulasi dan menimbulkan luka batin bagi banyak siswa yang diajarnya. Tetapi yang lebih menyesakkan lagi, dalam jangka panjang, para siswa secara sadar maupun tidak sadar akan dibimbing menuju kemunduran pemikiran. Siswa tidak diajak lagi untuk berpikir kritis dalam menganalisis situasi-situasi sosial yang konkret terjadi. Akibatnya, bahaya laten degradasi intelektualitas terus membayang-bayangi kaum muda saat ini. 

Dalam hemat saya sebagai seorang siswa biasa, diperlukan sebuah komunikasi yang intens antara siswa dengan staf pengajar terkait metode pembelajaran serta topik-topik yang hangat yang menjadi polemik masyarakat saat ini. Tidak cukup berhenti disana, tetapi dalam rubrik penilaian, siswa juga disosialisasikan apa yang menjadi kriteria-kriteria penilaian(terutama soal esai), supaya objektivitas dapat dirasakan baik guru dan siswa. Selain itu, soal-soal yang bersifat ambigu juga sebaiknya dipertimbangkan kembali apakah sudah sesuai. Terakhir, perlu diadakan audiensi-audiensi terjadwal supaya apa yang dijabarkan diatas dapat terealisasi. 

Mungkin sebagian pembaca bertanya-tanya, kalau mengkritik, kenapa tidak langsung ke orangnya saja. Maka saya tekankan, SUDAH. Dan ketidakpuasanlah yang didapatkan. Maka, ketika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja.

Catatan Pra Mid Semester : Ayam Bakar Kecap dan Es Teh Manis

Hari itu (26/9/2014), aku bersama seorang sahabatku berniat untuk pergi ke salah satu kantor di kawasan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Kami berniat untuk meminta informasi terkait dengan persiapan tes IELTS untuk perguruan tinggi. Pukul 13.30 kami berdua berangkat menuju ke kawasan tersebut dengan menumpang Kopaja P20. Sesampainya disana, kami lalu menghabiskan waktu hingga pukul 15.

Seleseai dengan urusan informasi, kami memutuskan untuk makan di daerah tersebut. Karena kami berada di kawasan perkantoran dan tidak ada kios makanan kaki lima yang ada di sekitar tempat itu, maka kami harus berjalan sekitar 5 menit untuk menuju ke salah satu sentra penjual makanan kaki lima. Ada berbagai macam pilihan mulai dari soto hingga hik solo. Tetapi akhirnya kami pun memutuskan untuk makan di salah satu kios ayam bakar. Akhirnya, kami pun memesan dua porsi ayam bakar kecap dengan minum es teh manis. 

Ketika kami sedang asyik berbincang, tiba-tiba datang seorang pemuda yang menjajakan sendal dan sepatu. Kami pun menolak dengan halus tawaran beliau untuk membeli karena memang kami sedang tidak butuh untuk membeli sepatu maupun sendal. Sekali menolak, beliau tetap menawarkan produknya. Aku pun mulai kesal karena sampai penolakan yang ketiga, pemuda ini tetap mengeluarkan segala jenis barang dagangannya sambil mempromosikan berbagai jenis sepatu dan sendal. 

Ah, aku pun kesal dengan sikap penjual ini. Ditambah lagi, kondisi kepalaku yang sedang mumet dan badanku yang lelah, aku pun meminta penjual sepatu dan sendal ini untuk pergi meninggalkan kami dengan nada yang agak meninggi. Si penjual itu pun juga ikutan kesal dan dengan cepat segera membereskan barang dagangannyya, lalu bersiap pergi meninggalkan kami.

Ketika sang pemuda itu hampir pergi meninggalkan kedai ayam bakar tersebut, si mbok penjual ayam bakar tiba-tiba memanggil pemuda tersebut. Sontak sang pemuda segera mempercepat langkahnya karena mengira akan dimarahi oleh si mbok. Tetapi, sebuah keputusan nan mulia muncul dari tindakan si mbok.

Si mbok penjual ayam bakar memanggil pemuda penjual sepatu dan sendal itu. Beliau hendak memberikan segelas es teh manis untuk si pemuda yang tampak kehausan. Sang pemuda menolak karena merasa tidak enak karena telah mengganggu warungnya. Tetapi si mbok memanggil salah satu asistennya dan menyuruhnya untuk memberikan sebungkus es teh manis kepada pemuda penjual sepatu dan sendal itu. 

Ketika sang pemuda menerima es teh manis pemberian si mbok penjual ayam bakar tersebut, raut muka si mbok berubah menjadi cerah dan berseri-seri. Sebungkus es teh manis sore itu telah melegakan dahaga jasmani sang penjual sepatu dan sendal keliling tersebut, tetapi tindakan si mbok yang penuh ketulusan telah melepaskan dahaga rohani aku dan sahabatku untuk saling berbagi kepada sesama manusia. 

Aku, bersama sahabatku pun berjalan menyusuri sore di selatan Jakarta itu dengan insightdan inspirasi baru...

Catatan Perjalanan KRL : Bapak Tua VS Ibu PNS

Stasiun Gondangdia petang itu tidak terlalu ramai. Maklum, hari ini adalah hari Sabtu. Seperti biasa, aku menunggu di peron jalur 2, menanti kedatangan KRL Commuter jurusan Jakarta Kota-Bekasi yang selalu kutumpangi untuk pulang ke rumah. Setelah setengah jam menunggu, akhirnya kereta pun tiba di stasiun Gondangdia. 

Ketika masuk ke dalam gerbong, penumpang tidak terlalu penuh. Aku tidak perlu bersesak-sesakan untuk naik. Tetapi nampaknya aku kurang beruntung. Semua kursi penumpang sudah terisi. Akhirnya aku pun harus berdiri. Lepas dari stasiun Gondangdia, aku menikmati pemandangan yang kuamati lewat jendela. Pesona langit sore yang berwarna jingga, dipadu dengan guratan-guratan tipis awan, serta sinar yang dipancarkan oleh gedung-gedung bertingkat di kawasan Kuningan dan Sudirman menambah nikmatnya keindahan sore itu. 

Tak lama berselang, tibalah kereta di Stasiun Cikini. Dari arah peron, masuklah dua PNS dengan tergesa-gesa sambil berbincang seorang dengan yang lain. Kebetulan, dua orang penumpang yang tadi menduduki kursi prioritas sudah turun di stasiun ini sehingga kedua ibu PNS itu pun duduk disana. Di belakang kedua ibu itu, ada seorang bapak berumur paruh-baya yang dengan langkah terseok-seok berusaha masuk ke gerbong itu. Tampak kaki bapak itu buntung sebelah. Karena aku tidak berdekatan dengan pintu yang dibuka, aku tak sempat membantu bapak itu untuk naik. Tetapi beliau berjalan menuju ke arahku dan berdiri di sampingku. Hatiku tergerak untuk mencoba mencarikan tempat duduk untuknya. Kulihat kedua ibu PNS tadi yang masih asik mengobrol. Dengan membawa niatan yang baik, aku mencoba meminta satu kursi kosong untuk sang bapak. Tetapi rupanya bapak tua itu membaca pikiranku. Dia menahan gerakanku. Lalu dia berkata, "Sudah, tidak apa-apa, biarkan saja mereka duduk istirahat. Mungkin saja mereka lelah dan penat sehabis bekerja." 

Aku tertegun mendengar perkataan bapak itu, lalu kubalik pernyataan beliau, "Pak, tapi kan bapak memiliki hak prioritas untuk menempati tempat duduk itu." Lalu sang bapak membalas, "Bapak masih kuat untuk berdiri sampai tempat tujuan. Setidaknya, bapak sudah memberikan kebahagiaan untuk orang lain walau hanya untuk sesaat."

Tak terasa, kereta sudah melaju melewati beberapa stasiun. Tinggal satu stasiun lagi dan aku pun harus turun. Setelah berpamitan dengan bapak itu, aku pun melangkahkan kaki keluar dari gerbong kereta. Kata-kata tadi sungguh menghangatkan hatiku. Kupandang sekali lagi langit sore itu. Sinar matahari yang temaram, menambah birunya hatiku untuk melangkahkan kaki keluar dan mensyukuri segala pengalaman yang boleh kuterima pada hari itu. Bapak tua, dua ibu PNS, dan KRL Jakarta Kota-Bekasi sore itu, telah menjadi sahabat bagiku untuk memahami makna kehidupan.