Jumat, 03 Maret 2017

Aku Ingin Jadi Sahabatmu

Ah, manusia memang layaknya entitas yang tidak pernah dapat diprediksi
Aku terkadang bingung, terombang-ambing oleh keadaan
Terluntang-lantung oleh ketidakpastian akan nasib dan kehidupan
Senang serta sedih, silih berganti

Ah, aku tidak tahu mengapa, mengapa seorang sahabat selalu datang dan pergi
Enam tahun, berusaha menyerap apa artinya persaudaraan dalam persahabatan
Membekas, tanpa ada yang tersisa. Aku selalu mencoba terbuka, memberikan apa yang selayaknya dan sepantasnya aku berikan

Ah, Sahabat, sedihku takkan berujung
Mungkin benar aku terlalu peminta
Mungkin benar aku tak pernah layak menjadi sahabatmu
Atau memang, dunia ini takkan pernah mengijinkan aku tuk jadi sahabatmu

Aku hanya ingin menjadi sahabatmu...

Senin, 06 Juni 2016

Tentang Manusia (2)

Take, Lord, and receive all my liberty,
my memory, my understanding,
and my entire will,
All I have and call my own.
You have given all to me.
To you, Lord, I return it.
Everything is yours; do with it what you will.
Give me only your love and your grace,
that is enough for me.

-Spiritual Exercise 234, St. Ignatius de Loyola-



Manusia, ya hari ini aku ingin bicara lagi tentang manusia. Manusia yang dikaruniai kebijaksanaan, sekaligus kecerobohan agar ia bisa belajar dari kecerobohannya untuk menjadi bijaksana. Bicara tentang manusia, kita selalu memiliki dua komponen yang tidak terpisahkan dari manusia itu sendiri, idealisme dan pandangan realistis. Ketika menelaah tentang manusia, kita juga tidak pernah bisa lepas dari hati nurani yang sejatinya tertanam didalam jiwa dan menjadi inti manusia yang paling sederhana. Bicara tentang manusia dan sekitarnya, tak bisa juga lepas dari nilai moral yang selalu menjadi napas kehidupan dalam membangun relasi. 

Kembali ke persoalan idealisme, serta pandangan realistis. Sejatinya manusia lahir memiliki akal budi dan pikiran. Itulah yang menuntun setiap kehendak dan perbuatannya. Itulah juga yang menuntunnya untuk menemukan inspirasi dari setiap peristiwa yang ditemui sang manusia. Proses dalam kehidupan mengolah manusia menjadi entitas yang memiliki pondasi, entah kuat atau tidak. Perlahan namun pasti, pandangan-pandangan manusia atas energi yang ada di sekitarnya mulai terbentuk, entah tajam atau tidak. Namun pada akhirnya, yang kuat dengan yang lemah akan bertubrukan, begitupula yang tajam dengan yang tumpul. Inilah, ketika idealisme bertubrukan dengan realita. 

Kasus yang cukup sederhana. Seorang mahasiswa baru yang dalam masa orientasi selalu ditekankan perihal kejujuran. "Fakultas ini sangat tidak mentolerir tindakan curang sekecil apapun." Setidaknya itulah yang diserukan oleh Sang Orator saat pertama kali ia menginjakkan kaki di lingkungan barunya. Namun, seiring waktu berputar, dan tahun berganti, idealisme kejujuran yang dipegang teguh oleh sang mahasiswa luruh oleh kemudahan praktis yang dicekoki minimal dua kali dalam satu semester, hingga akhirnya nilai kejujuran itu seutuhnya runtuh ketika dirinya didaulat sebagai plagiator skripsi. 

Ya, memang sederhana, dan tidak bisa digeneralisasi bahwa idealisme akan semudah itu luruh. Ada banyak contoh orang-orang sukses yang dalam hidupnya selalu bertekun memperjuangkan nilai-nilai moral individu yang positif. Tetapi, lebih banyak lagi yang jatuh dan terjerembab dalam iming-iming "kemudahan" ataupun "jalan pintas". Sederhana saja, bonum vivendum malum evitandum. Apa yang menurutKU benar, lakukan. Dan jangan lakukan apa yang KUanggap salah. KU-(dengan mempertimbangkan moral dan hasil olah rasa dan hati nurani).

Tetapi, kembali lagi ke titik awal manusia ketika ia berjuang untuk idealisme-idealismenya. Hal terpenting yang harus dimiliki oleh manusia adalah hati nurani. Hati nurani akan membawa manusia untuk menemukan self-consciousness nya. Seringkali kita sebagai individu bertanya-tanya kepada diri kita dan kepada Tuhan, "Quo vadis?". Mau dibawa kemana hidupku ini? Tetapi ternyata, jawaban itu muncul didalam suara hati ketika, ketika kita bisa menemukan Tuhan dalam segala tindak-tanduk sederhana. Non multa sed multum. Bukan dari seberapa banyak kita berhasil "menemukan" Tuhan dalam setiap peristiwa yang dialami, tetapi seberapa dalam pemaknaan akan kehadiran Tuhan dari suatu peristiwa tersebut. 

Proses memaknai kehadiran Tuhan bukanlah seperti proses memasak mie instan. Penulis pun masih dalam proses panjang pemaknaan hidup dan pencarian jati dirinya. Didalam hatinya, selalu muncul pertanyaan, setiap waktu, dimanapun, "Quo vadis?". Sehingga, dalam proses pencarian akan makna hidup, dan mau dibawa kemana hidup ini, setiap manusia hanya bisa berserah dan percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah sarana, sarana manusia untuk belajar menemukan Sang Hyang Widhi. Serta pada akhirnya, setiap manusia bisa menemukan inti dari perjalanan akhir kehidupan, yaitu kembali kepadaNya untuk memuji dan memuliakanNya sepanjang perjalanan pencarian itu. 

Jumat, 20 Mei 2016

Tentang Manusia (1)


Aku ingin tahu tentang manusia, tentangmu yang tak ingin tahu menahu dunia sekitarmu, tentangmu yang (mungkin) peduli dengan dunia dibalik imajimu.

Perjalananku di dunia yang baru ini diawali dengan sebuah tanda tanya besar tentang manusia. Manusia, apakah itu? Bagaimana rupanya? Apakah menakutkan? Ataukah bersahabat? Apakah aku akan senang berada di dekatnya?

Manusia pertama yang kutemui adalah makhluk yang penuh kharisma. Duduk di bangku sederhana dengan tangan terkatup diatas meja, menunjukkan betapa bijaknya tindak-tanduk dan perilakunya.  Dia adalah seorang pemimpin untuk kaumnya yang juga luar biasa. Banyak pengikut, dan tidak sedikit juga yang meminta petuah darinya. Aku saat itu berpikir, "ah, ada banyak pelajaran yang bisa kudapatkan darinya, ada banyak inspirasi dan cerita, dan juga akan ada banyak proses pertukaran pikiran didalamnya." Namun, aku salah. Manusia lain justru menceritakan kepadaku, betapa bencinya dia dengan hal baru. Betapa murkanya dia melihat ide-ide yang bertentangan dengan ide-ide yang telah ia bangun. Aku pun mundur teratur, menarik diri dari segala kemurkaannya. Aku pun teringat kata-kata seorang manusia yang mengatakan,"Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau." Aku pun kembali bertanya-tanya, apakah benar pepatah bahwa Sang Guru adalah Sang Pembelajar? Selesai, aku pergi dan berusaha mencari manusia berikutnya.

Manusia kedua yang kutemui adalah entitas yang penuh humor. Ia sedang duduk bersila di sebuah ruangan sempit dan pengap bersama dengan kawanannya dan bercengkrama.  Aku pun mencoba untuk ikut bergabung dalam bincang-bincang santai sore itu. Namun sayang, aku belum selesai dengan pengamatanku dan waktu pulang telah memanggil. Ya, aku akan melanjutkannya setelah seharmal yang akan kuhadapi nanti sampai pada titik akhir.

Ya, aku seorang pembelajar yang haus akan ilmu, yang percaya bahwa kelas hanyalah penjara yang mengungkungku untuk belajar banyak tentang manusia dan tentang kehidupannya. Aku percaya, bahwa manusia adalah entitas yang paling sempurna dan juga paling tidak sempurna. Dinamika ini kadang membuatku bertanya, "Tidakkah ada mata pelajaran tentang manusia?" Dan pemahaman akannya menjadi pemahaman yang paling sempurna sebagai ilmu yang paling tinggi dan paling mendasar.


Selasa, 26 April 2016

Sendiri

Ah, aku terduduk di sebuah ruangan berukuran 3x3 meter, menatap jendela penuh kekosongan.
----
Andai, ah, andai aku tak pernah mengenalnya.
Andai saat itu, aku beranjak, tak peduli.

Aku bingung
Aku terdiam

Kenapa harus orang itu?
Kenapa harus sebuah entitas yang bahkan belum jelas posisinya

Mengapa harus dimalam itu
Ketika gulungan deadline menanti hingga fajar menyingsing
-----
Aku kembali tenggelam kedalam perasaan yang sama, teringat kembali pengalaman itu
Kenapa kita harus bertemu
Kenapa kita harus berbagi cerita, suka duka, kita bagi bersama
Kenapa aku harus menanggung segala pengalaman indah dan pahit itu
Dan yang terdalam, kenapa waktu seolah dengan kejamnya memisahkan kita

Ah, apakah engkau egois?
Atau akulah yang sebenarnya egois menyebut dirimu egois?
Aku masih tak mengerti, kenapa harus muncul bayang-bayangmu, bukan yang lain?
-----
Aku pun masih terdiam, duduk sendiri, meratapi, tanpa pernah memahami

Senin, 18 April 2016

Kala Senja

Kala senja, menampik mentari dari pentahtaannya
Aku tepekur diujung koridor itu
Menatap kosong rasa yang tak kunjung padam

Kala senja, mengubah terang menjadi gulita
Dan burung gereja mulai menyanyikan senandung rindu
Aku terjerembab dalam rasa yang tak kunjung pudar

Kala senja, menjadi transisi siang menjadi malam
Dan angin berhembus, menyibak gerai rambutmu yang indah
Aku hanya bisa memandangnya dari sudut dan kejauhan

Kala senja, perahu mulai kembali dari pengarungannya
Dan sinar mentari memantulkan pribadimu yang istimewa
Tanpa keraguan, aku memandangnya dan hanya termenung

Kala senja, dan kala usiaku senja nantinya
Kala aku duduk tafakur menanti datangnya tumpangan satu arah
Jangan biarkan hatiku tertambat dan tergantung sesal dibawah derai tawamu

Untukmu, yang masih indah dalam kesunyian, cantik dalam pencampakkan hati
Dariku yang tak pernah surut menanti datangnya janji manis itu


Minggu, 10 April 2016

Tanya Kepada Awan

Aku duduk tersudut di sebuah ruang kosong tanpa atap
Sendiri, menyepi
Kembali lorong waktu itu menjadi sebuah teka-teki tak terpecahkan
Masa lalu, kini, dan masa depan
Semua masih menjadi misteri

Terkadang, aku iri kepada awan
Awan yang mengarak dengan gagahnya di langit
Putih, tetapi menciptakan sebuah eksotisme gradasi yang indahnya tak terperi
Putih, tetapi dari putih itulah indahnya langit sore yang jingga nan elok terlukis
Bebas bergerak tanpa pernah perlu kuatir mau kemana ia pergi

Aku iri kepada awan
Yang enggan menengok kebawah
Kutanya padanya, "Apakah engkau meng-indahkan dunia yang ada dibawahmu?"

Aku kembali pada kenyataan di ruang kosong itu
Bahwa aku, hanyalah manusia yang dibatasi oleh tembok-tembok keji
Tembok-tembok ketidakadilan, kemunafikan, pengkhianatan
Tanpa palu atau mesin bor, tanpa tenaga dan buldoser

Ya, aku baru teringat, aku dan awan
Dua entitas identik, namun dengan kenyataan yang berbeda

---------------------------------------------------------------------------------
Ketika idealisme bertabrakan dengan realita
Ketika itulah pertanyaan "quo vadis hidup ini?" mulai muncul
Dan ketika itulah, diam menjadi sebuah harta yang paling berharga

Minggu, 21 Februari 2016

Catatan Tengah Kuliah: Senja di Tepian Danau

Sebait larik, selintas aku mengingat wajah itu tanpa pernah berharap.

Satu per satu daun mulai berguguran di sisi danau itu
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore
Pikiranku setengah kosong, setengah terisi
Dipinggir danau, kulihat enam orang anak kecil bertubuh ceking sedang asik bermain
Lalu, lelaki tujuh puluh tahun sedang asik memainkan harmonikanya
Ah, sudah mau maghrib, kulangkahkan cepat kedua kakiku ke arah halte bikun Pocin
Tak lama berselang, bikun bernomor delapan itu pun tiba
Aku kembali terenyuh kala meninggalkan keenam anak kecil ceking itu
Bikun pun tiba di stasiun UI, dan aku membeli minuman seharga lima ribu rupiah
Tak lama menunggu, kereta pun tiba dan aku melompat kedalam gerbong kelima

Kisah sederhana sore itu menyisakan arti yang mendalam kala hati sedang sendu.
Kisah sederhana sore itu menjadi mozaik kecil yang melengkapi hidup
Ah, aku hanyalah kerikil, butiran pasir tak berarti dimata dunia

Untuk kisah yang tersimpan didalam angan
Untuk rasa yang tak pernah bisa terungkapkan

11 Kliwon 1949

Senin, 25 Januari 2016

Catatan Tengah Liburan : Semahal itukah Kejujuran?

Lahir dan dilepas dari sebuah proses pendidikan yang menjunjung tinggi nilai kejujuran bukanlah hal yang mudah. Dahulu, aku berjuang untuk mempertahankan kejujuran di lingkungan yang sangat mendukung hal yang sama. Pada masa itu, aku, bersama dengan ratusan rekan sejawat sama-sama memperjuangkan satu nilai yang masih tertanam dalam diriku hingga kini, "Be Honest!". Ya, aku sempat mencicipi pendidikan ala Ignasian di sebuah kolese Jesuit bernama Kolese Kanisius selama enam tahun. Selama enam tahun inilah aku semakin menyadari bahwa memperjuangkan kejujuran adalah hal yang tidak mudah.

Lulus dari Kolese Kanisius, aku menapaki langkah pendidikan berikutnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, yang merupakan salah satu kampus paling bergengsi di tanah air. Satu hal yang dapat kubanggakan saat hari pertama masa orientasi, adalah bahwa kampus ini juga menjunjung tinggi nilai kejujuran. Meskipun sanksi yang diberikan tidak sekeras sanksi pada masa SMA dulu, tetapi tetap saja ini menjadi bukti bahwa kejujuran adalah hal yang sudah disadari penting oleh kampus ini.

Aku bukan malaikat, apalagi dewa yang bisa seratus persen selalu bersikap jujur dalam setiap pikiran dan tindakan. Tetapi proses berjibaku selama enam tahun silam membuatku memiliki batasan-batasan perihal kejujuran yang tidak bisa ditoleransi. Tetapi untuk kasus menyontek, aku tidak bisa menerimanya. Menyontek adalah tindakan diluar batas. Menyontek adalah tindakan mencuri, mencuri buah pikir orang lain. Menyontek adalah tindakan mengklaim isi pikiran orang lain menjadi milik kita. Menyontek sama buruknya dengan plagiarisme. Menyontek adalah bibit menjadi calon koruptor. Aku teringat akan sebuah slogan yang kubaca beberapa waktu lalu dimading Fakultas Hukum Universitas Indonesia, "Muda plagiator skripsi, tua hobi korupsi". Menyontek dan plagiarisme adalah dua hal tercela yang tidak boleh dilakukan oleh seorang mahasiswa.

Tetapi, idealisme selalu berbenturan dengan realita yang ada. Pada satu momen yang sama, yaitu Ujian Akhir Semester, kulihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kejujuran seolah terinjak-injak. Dua mata ujian yang dilaksanakan yaitu Pengantar Bisnis dan Lab Bahasa Inggris, seolah tiada maknanya lagi. Nilai hanya menjadi tipu belaka. Kompetensi manusia tak lagi bisa dinilai dengan angka. Karena kejujuran seolah luruh dalam sekejap mata.

Aku memang bukan orang yang seratus persen jujur dan/atau seratus persen benar. Tetapi ada batasan-batasan moral yang seharusnya mampu dipahami oleh segenap mahasiswa, yang katanya merupakan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari kampus terbaik di Indonesia. Ketika nilai angka akademik menjadi sesuatu yang dimahakuasakan, maka seketika itu juga bangsa Indonesia akan jatuh, terkubur sampai lubang terdalam karena Ia tak bisa lagi mengandalkan pemuda-pemudinya.

Semoga pengalaman ini bisa menjadi refleksi bersama, khususnya bagi seluruh mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan di kampus-kampus ternama, agar menyadari bahwa nilai akademis bukanlah segalanya, melainkan nilai kehidupan adalah hal yang lebih pantas untuk diperjuangkan.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
"BE HONEST!"


Senin, 18 Januari 2016

Catatan Tengah Liburan : Sajak untuk Yang Tak Pernah Tergapai

Hidup adalah sebuah memorabilia
Mereka yang penuh dengan kenangan dan harapan
Seorang yang selalu duduk disudut ruang itu untuk bertanya
"Apakah aku masih ada dihatimu?"

Bait-bait ini akan penuh dengan segala ke-"aku"-an
Aku yang selalu tidur dalam buaian wajahmu
Aku yang terus bertahan dalam segala memori yang kita buat
Tanpa pernah tahu kenyataan yang ada dalam hatimu

Tetapi, sekedar kata "sayang" yang terucap sama tidak bergunanya dengan tindakan nyata tanpa tanda-tanda

Apakah aku harus menjadi seorang idiot?
Apakah aku harus menjadi seorang jenius?
Apakah aku harus menjadi idiot dan jenius sekaligus?
Atau tidak keduanya?

Aku tetap tidak bisa menggapai bintang itu
Dan aku tidak pernah berharap untuk melepas segala imaji tentangnya

Terinspirasi oleh film:
"Crazy Little Thing Called Love" dan "You Are The Apple of My Eye"

Minggu, 03 Januari 2016

Catatan Awal Tahun: Rintik Hujan Pertama di Januari

Hujan selalu menyisakan sebuah rasa yang esensial: sendu. Kesenduanku kembali muncul ketika tetesan itu jatuh ke ubun-ubunku. Tetesan yang sama yang kurasakan ribuan kali, bahkan jutaan. Sendu menjadi rasa yang utama, yang kembali mewarnai hari-hariku belakangan ini. Bukan tanpa alasan, tetapi juga dengan alasan yang penuh keabu-abuan.
Ahh...., semua tampak abu-abu bagiku.

Dia...
Wanita kesekian yang kembali membuatku kelu. Mengapa aku terlalu mudah menjatuhkan hati kepada seseorang? Hanya sesak yang terus berlabuh dalam pencampakkan ini.

Dia...
Wanita yang kembali merasuki relung hatiku tanpa pernah kuminta. Rasa ini hanya mengalir memasuki lubuk hatiku tanpa pernah kutahu cara untuk membuka kran pembuangan rasa. Menumpuk, membanjiri, hingga aku pun tenggelam dalam sebuah ironi.

Aku adalah seorang pengelana cinta yang tak pernah bisa menggapai barangkali seorang kekasih pun.

Diam seribu bahasa
Mencoba lari, lari dari kenyataan pahitnya kisah ini
Dan aku hanya berlari memutari dirimu yang tak pernah bisa sirna

Jakarta, 3 Januari 2016
 Tertanda,
Yang Terlupakan

Senin, 07 Desember 2015

Catatan Pra UAS: Senja yang Sendu di FEB UI

Sore itu aku sedang duduk di ruangan yang menjadi lokasi terindah bagiku untuk menikmati suatu sore yang tak begitu terik dengan semilir angin sepoi-sepoi. Di teras ruangan itu, ada tiga buah bangku panjang untuk bersantai lengkap dengan sebuah meja panjang untuk melengkapinya. Mungkin, sore hari itu sama seperti sore di hari-hari yang lain ketika sang surya perlahan mulai malu-malu untuk menunjukkan pancaran sinarnya. Tetapi khusus pada hari itu, pikiranku melayang tak terkendali, merasuk ke dalam titik nadir terdalam, hingga aku pun merinding akan kerinduan yang tak terperi.

Ruang KUKSA FEB UI menjadi saksi, dan sebuah arena perhelatanku. Bukan aku dengan seorang manusia lain, melainkan aku yang bergulat dengan pikiranku serta hatiku yang tersegmentasi menjadi dua sisi yang berlainan. Sisi yang satu menyatakan bahwa aku harus fokus dengan realita yang aku hadapi, yaitu aku adalah seorang mahasiswa FEB UI yang setiap harinya harus dihadapkan dengan pelbagai tugas dari dosen hingga rapat-rapat kepanitiaan yang semuanya cukup menguras energi. Ditambah lagi bahwa dalam waktu dekat aku akan menghadapi Ujian Akhir Semester. Tetapi ada sisi lain diriku yang terus meronta-ronta, memintaku untuk melepaskan dirinya yang sudah tak tahan dengan kerinduan ini. Ya, aku terserang rindu. Rindu akan seorang sahabat yang baru berpisah dariku kurang lebih lima bulan yang lalu. Aku hanyalah setetes tinta tanpa pena. Seonggok es batu tanpa minuman yang dapat kusegarkan. Memang, tiada pertemuan tanpa perpisahan, tetapi berpisah dan sekedar mengucapkan "Goodbye, see you on top" tidak pernah semudah membalik telapak tangan. Kami ditempa dalam kuali yang sama, berproses, membentuk idealisme kami masing-masing. Tetapi rasa-rasanya, baru kemarin kulihat senyum di wajahmu. Baru kemarin, aku mendengar racapanmu, guraumu, tawamu, amarahmu, hingga pesan perpisahanmu yang kuterima dengan selapang-lapangnya. Tetapi kini, rindu itu kembali berlompatan ditengah gurau dan tawa yang kulontarkan setiap hari kepada kawan-kawan baru. Satu hal yang pasti, aku masih rindu akan keberadaanmu.

Mentari mulai menyusut masuk di ufuk barat. Tak terasa, rintik hujan pertama jatuh dari kelabunya langit sore itu. Satu titik, dua titik, lima titik, puluhan, ratusan, hingga tak terhitung jumlahnya karena gerimis telah bertransformasi menjadi badai. Hatiku kembali berkecamuk. Hujan memang memberikan sensasi tersendiri bagi orang-orang yang melankolis. Tiba-tiba, seorang wanita yang telah lama kukenal menyambangi tempatku duduk menikmati sore yang sendu itu. Wajahnya tampak lelah, dengan terburu-buru, ia melepas sepatu dan masuk ke ruangan. Ada sebuah asa dan harapan yang tergores jelas di wajahnya. Ada mimpi-mimpi yang sedang berusaha ia gapai. Tiba-tiba, hatiku kembali bergelora akibat tatapan wajahnya yang begitu tajam. Ada rasa, ada sebuah keinginan bagiku untuk masuk ke dalam kesulitan-kesulitan terdalam hidupnya. Aku ingin menjadi garam di tengah tawar kehidupannya, aku ingin menjadi pelita pada titik-titik tergelap dalam hidupnya. Tetapi aku adalah aku, pria yang bahkan tidak pernah punya kemampuan untuk menyapa dirinya lebih dalam. Aku adalah butiran debu dalam kerasnya perhelatan asmara...

Kamis, 12 November 2015

Catatan Tengah Kuliah: Secercah Ide dari Sudut Ruang Kosong


“Hidup untuk nilai?”, atau “Nilai untuk hidup?”

Dua frasa ini menjadi landasan bagi kita untuk berefleksi tentang esensi kehidupan perkuliahan kita di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini. Sudah saatnya bagi kita semua, mahasiswa, sebagai ujung tombak perjuangan bangsa Indonesia ini dalam mempertahankan kemerdekaan untuk menilik kembali dan bertanya kembali, “Mengapa aku harus berada di kampus ini?”.

Tepat lima puluh enam tahun silam, seorang pemuda, manusia garda depan perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan ini, dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, memasuki babak baru dalam menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia , kampus perjuangan yang hingga detik ini menjadi wadah penggodokkan kita semua. Sutomo, atau lebih populer dengan sebutan Bung Tomo, sang tokoh dibalik peristiwa 10 November 1945 ini ternyata pernah mengenyam pendidikan dari wadah yang sama, seperti yang saat ini kita rasakan.

Lantas, apa yang menjadi penekanan bagi kita semua sehingga kita perlu belajar banyak dari beliau? Bung Tomo adalah sosok yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang sekadar nilai atau IPK belaka. Tidak bisa kita pungkiri bahwa pengalaman beliau puluhan tahun dalam mempertahankan kemerdekaan serta torehan prestasi beliau di berbagai bidang sudah lebih dari cukup daripada sekedar gelar sarjana semata. Tetapi ada satu poin penting yang pantas kita teladani dari kisah kehidupan Bung Tomo, bahwa beliau menuntut ilmu, untuk dibagikan kepada orang lain. Beliau menempatkan ilmu pengetahuan, sebagai material utama untuk membagikan inspirasi kepada kaum muda. Misalnya saja, dalam masa perkuliahan di FE UI, beliau sangat aktif dalam memberikan ceramah perjuangan kepada para siswa SMA, salah satunya di SMAN 3 Jakarta pada tahun 1966.

 Setiap niat yang baik, pasti akan menuntut pengorbanan. Semakin besar niatan baik tersebut, semakin besar pula pengorbanan yang harus dilakukan. Meskipun seorang Bung Tomo kerap kali mendapat predikat cumlaude pada setiap nilai ujiannya, beliau harus rela memasuki masa prayudisium setelah 22 tahun menyandang status sebagai mahasiswa FE UI. Bahkan, hingga ajal menjemput, toga pun tak sempat tersematkan di kepala sang orator ulung ini. Tetapi dampak yang beliau berikan kepada bangsa ini, bisa jauh lebih berharga ketimbang seorang ekonom yang menyandang gelar doktor, tetapi tidak pernah berkontribusi menyentuh batas kemampuan yang Tuhan anugerahkan kepadanya.

Ada sebuah pergeseran makna yang sudah lazim terjadi di kalangan mahasiswa FEB UI, bahkan seringkali menjadi tren tersendiri, bahwa IPK tinggi adalah segala-galanya sehingga sebagai mahasiswa, kita sering lupa bahwa peran kita adalah ujung tombak pembangunan bangsa. Bagaimana mungkin kita bisa membangun bangsa dan mempertahankan kemerdekaan, jika kita tidak pernah punya kepedulian terhadap orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa berbagi pengetahuan kepada ribuan anak jalanan yang terdampar di bawah kolong-kolong jembatan, atau di bantaran sungai, jika kawan kita, sesama mahasiswa, sendiri pun tidak pernah kita bantu. Atau bahkan, kita cenderung egois, menyimpan ilmu untuk diri kita semata. Mengubur talenta yang Tuhan miliki tanpa pernah menjadikannya berarti untuk orang lain? Apa esensinya kita berhasil memasuki salah satu fakultas ekonomi terbaik di Indonesia, tanpa pernah memahami esensi dan nilai guna dari ilmu yang kita peroleh, bahwa ilmu yang kita terima adalah bukan untuk diri kita sendiri, tetapi menjadi modal untuk memberikan impact positif bagi lingkungan sekitar kita?

Apakah tulisan ini adalah sebuah gugatan bahwa mahasiswa FEB UI bersikap seperti apa yang dipaparkan diatas? Bukan, tulisan ini menjadi sebuah refleksi bersama, sebuah correctio fraterna atas kehidupan lebih dari separuh semester yang kita alami di periode 2015/2016 ini. Apalagi, belum genap seminggu kita memperingati hari pahlawan. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnya kita mulai bertanya kembali kedalam hati kita, membulatkan tekad kita, sebenarnya, untuk apa aku berada di kampus ini.

Untuk berjuang? Atau untuk menelantarkan perjuangan itu sendiri?

Sumber: 
TEMPO, 9-15 November 2015 Edisi Khusus Hari Pahlawan.

Minggu, 18 Oktober 2015

Catatan Pra Ujian : Pancasila dan Substansi Penerapannya di Masyarakat

Ibarat sebuah rumah yang berdiri kokoh, walaupun terjaan angin topan dan hujan badai, Pancasila telah menjadi suatu fondasi yang begitu baik bagi Bangsa Indonesia yang secara keseluruhan merupakan refleksi dari para pendiri Bangsa Indonesia. Cita-cita mulia, sebuah ideologi yang mendasari segala bentuk kebudayaan, adat istiadat, dan pedoman hidup bagi seluruh rakyat Indonesia yang mengikat sejak nafas pertama dihembuskan. Pancasila adalah dasar dari setiap nafas di Bumi Pertiwi. 

Derasnya arus globalisasi modern pada zaman ini tentu saja mulai merasuki setiap unsur kehidupan Bangsa Indonesia. Terkait eksistensi Pancasila, pastinya ada banyak terpaan dan cobaan dalam menguji validitasnya. Quo vadis? Mau dibawa kemana Pancasila kita?

Eksistensi Pancasila yang masih bertahan dari sekarang adalah warisan turun temurun dari manusia pertama yang mendengar istilah tersebut. Oleh karena itu, meskipun diserang oleh terpaan ideologi-ideologi lain melalui terbukanya arus globalisasi dari dunia barat, Pancasila akan tetap diwariskan dari generasi ke generasi. Pancasila merupakan fondasi bangsa, dan sebagai fondasi, Pancasila akan terus dihidupi oleh masyarakatnya. Sesuai dengan Teori Stufenbau oleh Hans Kelsen, Pancasila adalah norma hukum yang paling mendasar bagi Indonesia (grundnorm). Dengan demikian, Pancasila tidak akan bisa hilang dari Indonesia.

 Pancasila secara tidak langsung telah terdoktrin dengan begitu efektif. Oleh karena itu, walaupun terjadi pergejolakan dan upaya-upaya pelengseran kedudukannya sebagai sumber hukum, Pancasila tetap bisa bertahan. Faktor yang lain adalah kurangnya wawasan masyarakat Indonesia pada masa itu tentang ideologi-ideologi lain selain Pancasila, sehnigga masyarakat saat itu terkesan "alergi" dengan ideologi-ideologi lain selain Pancasila. Namun yang perlu ditekankan disini adalah, dalam menanggapi kasus yang dimaksud, kita harus berpikir dengan sangat objektif dan senetral mungkin, karena sampai sekarang, sudah tidak ada lagi yang tahu pasti apa yang sebetulnya terjadi. 

Tetapi jangan senang dahulu. Yang menjadi masalah disini bukanlah eksistensi Pancasila sebagai suatu kata benda yang diturunkan dari seorang ibu ke buah hatinya secara turun temurun. Yang menjadi masalah adalah substansi penerapannya di Masyarakat. Bagaimana masyarakat Indonesia pada dunia modern ini melihat kehidupannya dalam konteks Pancasila, dan bagaimana Pancasila tersebut dikorelasikan dengan kehidupan sehari-hari Bangsa Indonesia, daripada sekedar menjadi beberapa patah kata yang diucapkan setiap upacara nasional. Pancasila ibarat sebuah pohon besar yang melindungi seluruh rakyat Indonesia dari sengat panas matahari. Akarnya kuat, tetapi sayang daunnya meranggas. Tidak bisa dicabut, tetapi tidak bisa memayungi juga. Disinilah pelajaran Pancasila menjadi penting dalam mengisi daun-daun yang meranggas tersebut. Untuk menumbuhkan kembali daun-daun yang telah meranggas pohon besar yang menaungi kita semua. Belajar Pancasila berarti belajar menjadi orang Indonesia.

Tulisan ini merupakan hasil olah pikir dari: Leonardi Ryan Andika (FEB UI 2015), Matheus Nathanael Siagian (FH UI 2015), dan Timoteus Hansen Alby Valen (DKV Binus University 2015)

Minggu, 27 September 2015

Catatan Tengah Kuliah: Deru Derita Kehidupan

Bisakah engkau percaya pada mimpi? Jika rintik hujan tak lagi memberikan kesegaran pada alam semesta. Bisakah engkau menggantungkan mimpi pada titik tertinggi? Jika langit pun tak pernah mampu kita raih.

Hidup adalah setitik noktah ditengah hamparan kertas putih. Kesendirian dan kesunyian adalah sebuah elegi kehidupan yang paling nyata. Kegagalan adalah pedih yang tak ternilai sakitnya. Kebangkitan hanyalah utopia yang entah kapan mampu diraih tanpa adanya sebuah penopang.

Aku duduk bersimpuh di tengah padang pasir nan gersang. Aku bertelut di tengah dinginnya balutan salju Antartika. Aku tenggelam dalam kejamnya Laut Pasifik. Aku melihat rajawali terbang tinggi diatas kepalaku dengan mataku sendiri.

Di dalam temaramnya sudut kota, aku hanya melihat gumpalan lumpur yang menetes dari pelimbahan. Menatap air yang dulu sama-sama mengalir melalui pipa yang sama, yang kini telah menguap menjadi awan, dan aku hanya jatuh dalam saluran pembuangan.

Takdir adalah misteri kehidupan yang penuh dengan tanda tanya.
Pertanyaannya: Kemanakah takdirku?


Jumat, 18 September 2015

Catatan Tengah Ospek : Sendu di Karawang Timur

Sepi
Perlahan-lahan, sinar surya pun mengintip malu-malu dari ufuk timur dan goresan cakrawala.
Pagi merekah ketika burung-burung mulai mengepakkan sayap-sayapnya diatas hamparan sawah nan megah.
Kesunyian desa pun perlahan terpecah oleh deru sepeda motor yang melintas di jalan setapak nan berbatu.
Aku berdiri di dipan menatap hamparan padi yang mulai menguning sambil berpikir tentang hari itu.

Tetapi hari itu tak lagi sama seperti hari-hari sebelumnya.
Aku hanya bisa pasrah, menerima sambil sekaligus melepas.
Tetapi ini bukanlah anganku, bukan mimpi dan citaku.

Putihnya salju yang membalut kereta peluru itu tak mungkin dapat kuraih lagi saat ini.
Pasrah menerima kenyataan, bersyukur atas segala nikmat adalah dua tembok besar yang membatasi indahnya hidupku.
Tidak Laut Cina Selatan, maupun Laut Jepang yang akan menyambut setiap pagiku.
Juga bukan deretan hanzi ataupun kana yang akan mewarnai lidahku di masa-masa kuliah ini.
Bukan Hong Kong, maupun Jepang yang akan menjadi pijakan hidupku selanjutnya

Aku hanyalah seorang manusia yang terdampar di sebuah lubang takdir.
Aku hanyalah seorang pengelana, pengejar mimpi, meskipun mimpi itu tak kunjung berubah jadi nyata.

Aku, hanyalah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Dan dari Desa Darawolong ini, jiwaku kuhempaskan.

Karawang Timur, 18 September 2015



Jumat, 28 Agustus 2015

Catatan Tengah OSPEK : Masihkah Kita Berbahasa Indonesia?

"Rapat kiri, rapat kiri! Cepat dik! SUSUL teman di depannya!"

Teriakan-teriakan itulah yang saya dengar karena terus didengungkan oleh tim Komdis OPK FEB UI 2015 (Komisi Disiplin Orientasi Pengenalan Kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia). Sebagai seorang Maba (Mahasiswa Baru), tentunya saya harus mengikuti instruksi dari mereka. Kalau tidak, tentu teriakan yang lebih keras harus saya tanggung sebagai konsekuensi atas tindakan penyelewengan tersebut.

Tetapi tunggu dulu...

Ada sebuah keganjilan disini. Ada sebuah ambiguitas yang sering tidak kita sadari sepenuhnya. Kata "susul" apabila kita telaah lebih dalam, ternyata memiliki dua arti. Kata "susul" memiliki arti: mengejar yang ada di depannya. "Susul" juga berarti mengikuti yang sudah terlebih dahulu di depannya. Tidak salah memang, tetapi mungkin bagi sebagian orang, konsep yang tertanam didalam kepala mereka adalah pengertian yang kedua. Tentu kita sering mendengar para sopir angkot "menyusul" mobil yang di depannya. Ataupun juga, "susul" bisa berarti datang kemudian. Tentu kita sering mendengar kata-kata "Saya menyusul nanti ya". Artinya, konteks penggunaan bahasa disini masih bisa dipertanyakan.

Sebagai anggota dari salah satu universitas (yang katanya) terbaik di Indonesia, terkadang kita masih kurang memahami dengan sungguh, dan mengaplikasikan dengan serius penggunaan bahasa di lingkungan kampus. Terlebih lagi, kata-kata tersebut keluar dari mulut para Komdis yang notabene bertugas untuk "mendisiplinkan" para maba.

Dalam hemat saya, masih ada kata-kata lain yang bisa digunakan untuk menginstruksikan maba yang terdengar lebih pas, seperti "Rapatkan barisannya, dik!", dan "Maju dik!". Memang hal semacam ini terkesan sebagai hal yang remeh-temeh. Tetapi bagi saya, proses pendidikan adalah proses pencarian kebenaran, dan kebenaran bukanlah sesuatu yang penuh ambiguitas. Terkadang, kita suka melupakan hal-hal sederhana semacam ini. Tidak hanya zaman sekarang, tetapi dari beberapa dekade yang lalu, perihal bahasa adalah perihal yang suka diremehkan. Menurut J. Drost, SJ (2006:27), "Di Indonesia, cara kita menangani proses penerimaan mahasiswa sama sekali lain dan tidak memperhatikan aspek itu (bahasa-red).

Pendidikan humaniora menjadi alasan fundamental mengapa penggunaan Bahasa Indonesia terkesan tidak begitu dipentingkan. Saya pun masih sering menggunakan Bahasa Indonesia dengan salah tanpa mengetahui letak kesalahan dan tanpa menyadari bahwa saya melakukan hal yang salah. Menurut J.Drost, SJ (2006:28), "Bahasa Indonesia untuk calon intelektual kita(mahasiswa-red) bukan merupakan sarana humaniora." Penggunaan bahasa di lingkungan perguruan tinggi yang masih salah, apalagi di salah satu universitas (yang katanya) terbaik di Indonesia menjadi refleksi bersama bagi kita, apakah kita sebagai mahasiswa Universitas Indonesia sudah layak menyandang sebutan "mahasiswa terbaik di Indonesia"? Masihkah juga kita layak berbangga menyebut Universitas Indonesia sebagai universitas terbaik di Indonesia, jika fenomena semacam ini masih sering terjadi dan masih dijadikan hal yang biasa?

Tentunya tulisan ini hanyalah gambaran satu dari sekian banyak kasus yang terjadi di lingkungan Universitas Indonesia. Ada kasus-kasus lain yang lebih parah, ada juga yang lebih ringan terkait penggunaan bahasa. Tulisan ini juga bukanlah sebuah tulisan akademik yang disusun secara ilmiah. Tulisan ini juga bukan bertujuan untuk menyerang satu-dua pihak yang berada dan bertanggung jawab terhadap permasalahan ini di lingkungan Universitas Indonesia. Tetapi yang saya harapkan, semoga tulisan ini menjadi refleksi kita bersama agar tidak terlalu menjadikan diri tinggi hati menjadi bagian dari warga Universitas Indonesia, karena toh, mempertahankan kedaulatan berbicara di negeri sendiri pun kita belum becus.

Semoga...

Referensi:
  • J. Drost, SJ. 2005. Dari KBK Sampai MBS: Esai-esai Pendidikan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
  • http://kbbi.web.id/susul diakses pada 28 Agustus 2015, 16.15 WIB

Selasa, 04 Agustus 2015

Catatan Pra Kuliah : Ketika Sayap-sayap Itu Mulai Melesat Lebih Tinggi

Ada sebuah pepatah, "Mengapa ada perjumpaan jika harus ada perpisahan".

Hidup yang benar-benar hidup telah kurasakan selama kurang lebih dua tahun. Ya, dua tahun aku mengarungi kehidupan bersama rekan-rekan sejawat yang menamakan diri kami "Sosial 15". Aku masih ingat betul, betapa kami pada awalnya begitu terkotak-kotakkan. Ada kawanan "haus", ada kawanan "borjuis", ada kawanan "surfing" (baca: tukang tidur di kelas), bahkan ada kawanan "anker" alias "anak kereta".

Dua tahun, kami digodok, berproses dalam dinamika belajar. Ya, "belajar" menjadi sebuah kata dengan sejuta makna. Aku tidak hanya belajar tentang hal-hal akademik saja, melainkan juga belajar untuk "hidup". Hidup untuk berbagi, peduli, mau saling membantu satu dengan yang lain.

Tentu, tiga bulan pertama bukanlah waktu yang mudah bagi kami untuk saling belajar. Namun Tuhan sungguh luar biasa. Kami mulai saling mengerti satu sama lain. Kami yang pemalu, mulai berubah menjadi agak berani. Kami yang egois, mulai belajar bagaimana berbagi dengan orang lain.

Inilah kami, saat pertama kali berjumpa dan melabelkan diri dengan titel "Sosial 15". Masih dengan ego masing-masing, masih dengan rasa kurang percaya diri, masih dengan segala egosentrisme yang melekat erat
Kemudian, hadirlah para pendidik yang mendidik kami dengan sejuta karakter, dengan kelebihan dan kekurangan mereka. Saling lempar argumentasi, sembunyi-sembunyi tidak mengerjakan tugas, hingga menggelontorkan orasi kepada pimpinan untuk berefleksi sebelum menurunkan peraturan yang tak pasti.

Dua tahun, yang tidak lama kemudian tinggal tersisa enam bulan. Kami pun tiba pada momen untuk menghadapi ujian akhir. Tidak hanya satu, tetapi serangkaian. Tetapi ada satu kekuatan yang membuat kami mampu melalui semua itu. Doa Bersama. Tidak cukup hanya berdoa, karena berdoa sendiri-sendiri adalah berdoa untuk masing-masing pribadi. Juga demikian, tidak cukup bersama-sama, larut dalam kebersamaan, tanpa adanya doa. Doa bersama, tidak hanya mendoakan aku sebagai pribadi, tetapi juga turut mendoakan sahabat-sahabatku dalam komunitas ini

Ada sebuah tradisi yang sangat aku ingat. Sesaat sebelum bel masuk ujian nasional, kami berkumpul, menyatukan tangan kami, seturut menyatukan doa dan permohonan kami, untuk menghadapi ujian akhir ini. YA, UJIAN AKHIR YANG TERAKHIR: MEMPERTAHANKAN KEJUJURAN.
Hanya satu doa kami, "Mampukan kami untuk melaluinya dengan kejujuran sesuai dengan usaha kami masing-masing".
Hingga akhirnya, kami mampu melewati tiga hari itu, walaupun dengan segala peluh dan perjuangan, dengan meneriakkan keberhasilan dengan kejujuran
Tetapi tidak akan pernah ada yang lebih bisa membuatku bangga, selain menjadi bagian dari komunitas ini.

Tidak terasa, waktu cepat berlalu. Kami sudah siap, menjadi pribadi-pribadi dewasa yang haus untuk memperjuangkan mimpi-mimpi yang telah ditata di masa SMA. Lima belas dari kami siap untuk melanglang buana, melanjutkan mimpi-mimpi mereka diluar bumi pertiwi ini. USA, Belanda, Inggris, Jepang, Australia, Singapura, Dubai, menjadi patok-patok baru yang siap ditanam untuk terus mengukirkan semangat kebersamaan ini. Sementara itu, empat belas dari kami siap mengukir prestasi baru di perguruan tinggi negeri di tanah air, dan sisanya di perguruan tinggi swasta di Indonesia.

Dua armada masa depan telah dilepas melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ya, 3 Agustus 2015, armada pertama dilepas menuju Melbourne atas nama Adrian Surya. Dia akan melanjutkan studi di Melbourne University. Armada kedua dilepas tepat hari ini, 4 Agustus 2015 menuju United States of America atas nama Yosef Martin Pradipta yang akan melanjutkan studi di Indiana University. Masih akan ada lebih banyak momen perpisahan yang harus kami hadapi.

Perpisahan, selalu menjadi momen pahit yang tak mudah untuk dilupakan. Tetapi obat paling manjur adalah pil terpahit, bukan? Melepas kawan-kawan seperjuangan untuk masa depan. Semoga kita bisa terus berkarya, saling mengukir kesuksesan hingga suatu saat nanti, dengan bangga, kita bisa dentumkan diri kita sebagai bagian dari SOSIAL 15 Kolese Kanisius, Jakarta.

Ite Inflammate Omnia!


Sabtu, 27 Juni 2015

Catatan Pra Kuliah : Untuk Wanita yang Lahir di Hari Kasih Sayang

Secarik kertas putih polos, tak akan bermakna apapun tanpa hadirnya tinta-tinta yang bertebaran diatasnya, yang membentuk ratusan, bahkan ribuan mozaik. Tidak hanya  ada yang harmonis sehingga mampu menyusun kata-kata penuh makna, tetapi juga ada yang tercoret dengan abstrak, tanpa ada sesuatu makna pun  yang mampu diinterpretasikannya. Manusia ibaratnya satu rim kertas putih kosong yang siap untuk dihujami tinta-tinta itu. Kita tidak pernah tahu, seperti apa guratan pena yang merobek samudra putih kosong nan suci itu. Apakah kita akan diisi dengan dokumen negara sangat rahasia? Atau kita hanyalah berguna sebagai scrap paper semata? Toh semua itu masih menjadi misteri.

Bicara tentang kehidupan. Kita sering dengan mudahnya membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan yang orang lain miliki. Rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau bukan? Kita selalu dengan mudahnya membicarakan apa yang orang lain miliki, tanpa kita ketahui apa yang ada di balik itu semua. Entah senyumannya yang membalut kepedihan hatinya, atau tawanya yang menyembunyikan tangisan pilu nuraninya? Kita tak pernah tahu, kawanku.

Untuk sahabatku yang akan segera melepaskan pijakan kakinya dari bumi pertiwi ini. Sahabatku yang gemar mencurahkan segala kegalauan hatinya kepadaku. Kembali kutulis catatan sederhana ini untuk engkau renungkan.

Sesungguhnya, perpisahan ibarat pedang bermata dua. Tinggal mana yang engkau pilih. Apakah mau kau gunakan untuk menjadi kekuatanmu? Atau kaugunakan untuk menghancurkan dirimu? Ya, aku tahu, memang sedih ketika kita harus meninggalkan sejuta memori indah yang kau rekam bersama dia. Memori yang kelak di masa mendatang bisa menjadi duri dalam daging. Atau, bisa juga kau gunakan memori-memori indah itu sebagai pelecut semangatmu dalam menggapai asa dan impian.

Sampai detik ini, aku masih percaya bahwa engkau adalah wanita perkasa, yang masih percaya akan mimpi. Kita bukanlah budak cinta yang terus terjerembab dalam kesedihan dan kegalauan, meskipun bukan berarti kita menghalau cinta dari kehidupan. 

"Time is like a river, you cannot touch the same water twice"
Jadikanlah pengalaman pahit sebagai pembelajaran dan pengalaman manis sebagai bonus kehidupan


Jangan lupakan: Gunung Prau dan Hokkaido 


Jumat, 08 Mei 2015

Risalah Akhir Sekolah : Langkah Pertama (part 3)

Kata salah satu iklan rokok, “Life is an adventure”. Akan tetapi bagiku, “Life is about choices and challenges”. Ya, tantangan dan pilihan selalu muncul silih berganti pada periode awal adaptasiku di komunitas SOS ’15 ini.

Pada suatu senja, aku duduk di depan ruang guru sedang menunggu Ibu Dwi Hardjanti untuk mengumpulkan tugas ekonomi. Tidak lama, Ibu Dwi keluar dari ruang guru. Aku pun segera menghampiri dan menyerahkan tugas ekonomiku. Kami pun berbasa-basi sejenak. “Rencana, mau jadi apa Le, kalau sudah besar nanti.”, tanya Ibu Dwi kepadaku. Aku pun menerangkan kembali peristiwa saat pemilihan jurusan, konflik dan peliknya ketika perdebatan dan argumentasi harus muncul saat menentukan pilihan hidup. “Mungkin saja, ikut jejak mama, jadi akuntan. Hehehe….”, jawabku ringan di akhir penjelasanku. Sejenak, Bu Dwi terdiam seperti mengenang memori masa lampau yang sudah lama terpendam. “ Dulu, Kanisius punya nama besar dalam dunia akuntansi di kalangan pelajar SMA. Tetapi itu dua puluh tahun yang lalu. Setelah itu, kita vakum, hilang dari peredaran seperti ditelan bumi, hingga detik ini.”, begitu kata Bu Dwi. Aku pun tertegun sejenak mendengar ceritera beliau. Bagaimana seluk-beluk, pahit-manisnya perjalanan Ibu Dwi bersama Pak Dirman dalam memoles anak-anak berkualitas dari Kanisius, hingga akhirnya, nama besar itu harus kalah oleh tindakan-tindakan tidak jujur dan tidak adil. Terlintas sejenak pemikiranku untuk menggali kembali pusaka yang telah terpendam lama.

Aku selalu terngiang-ngiang akan perkataan Romo Mintara kepada siswa-siswa SMP Kanisius, “You are men on missions. You are the agent of change”. Aku sadar betul bahwa kata-kata itu bukanlah wejangan semata, melainkan sebuah semangat yang dibangun dalam jiwa setiap kanisian. Iseng, kucoba mencari kompetisi akuntansi yang diselenggarakan di daerah Jakarta dan sekitarnya. Nah, ada satu kompetisi bernama Olimpiade Akuntansi dan Pasar Modal tingkat nasional. Dari namanya saja, sudah menunjukkan kelasnya sebagai kompetisi tingkat nasional.

Meskipun dengan ilmu seadanya karena baru di awal pertengahan semester 1 kelas 11, dimana baru 3 bulan belajar akuntansi, dengan sedikit keberanian, aku utarakan ideku kepada Pak Dirman dan Bu Dwi tentang rencana mengikuti kompetisi ini. Kuhubungi Pak Dirman terlebih dahulu karena memang beliau adalah guru pengampu mata pelajaran akuntansi. Seperti kataku diawal, hidup tidak hanya soal pilihan, tetapi juga soal tantangan. Maka, tantangan itu justru datang dari dalam komunitas sendiri. Ya, penolakan dari sang guru. Alasan-alasan logis dilontarkan secara bertubi-tubi. “Materi yang kalian pelajari masih terlalu dangkal. Nanti kalau kalah bisa bikin malu Kanisius. Lomba akuntansi itu ga mudah lho, butuh persiapan panjang”. Kuhitung mundur. Satu bulan persis untuk mempersiapkan diri. Dengan keyakinan, aku pun berkata pada beliau, “Dengan segala keterbatasan kami, pak, kami ingin mencoba.” Pak Dirman akhirnya mengiyakan dengan syarat beliau tidak mau memberikan jam tambahan untuk persiapan lomba ini.

Aku pun mempertimbangkan kembali semua alasan-alasan Pak Dirman.  Semua benar. Mungkin memang seharusnya aku tidak mengambil keputusan ini. Maka selanjutnya pun, aku mencoba menghubungi Ibu Dwi. Beliau sangat antusias dengan ide ini, dan beliau juga setuju untuk membantu kami mempersiapkan materi-materi yang belum kami kuasai. Ah, satu pintu lagi terbuka untuk mengejar mimpi ini.


Akhirnya, dipilihlah enam pelopor yang bersedia dan mau untuk mencoba masuk kedalam dunia yang sama sekali belum kami kenal. Yaitu dunia kompetisi akuntansi. Sore itu, aku, Ais, Dave, Tata, Adrian, dan Hero bersama Ibu Dwi merancang sebuah master plan untuk jadwal belajar untuk mengejar materi yang harus diselesaikan sebulan kedepan. Ketika aku kilas balik kembali, kusadari betul bahwa master plan itu bukanlah master plan biasa, tetapi adalah sebuah master plan untuk menggapai sebuah mimpi. Keberhasilan adalah mimpi yang dipersiapkan. 

Maka, sore itu kami mulai menyusun kepingan mimpi-mimpi kami sebagai penggagas awal komunitas akuntansi ini. 

(to be continued)

Minggu, 03 Mei 2015

Catatan Pra Kuliah : Untuk Perempuan Berkaus Merah Muda

Waktu tak akan pernah berlalu dengan sia-sia. Tetapi kita bisa menyia-nyiakan waktu. Ada sebuah masa dimana manusia mampu bangkit dan tenggelam dalam warna-warna kehidupan. Tenggelam, menuai rasa sakit, yang kadang tidak terperi. Bangkit, oleh sebuah harapan yang pantas diperjuangkan. 

Cinta itu adalah representasi dari hati yang dituangkan dalam gelombang transversal. Lewat gurun, lembah, gunung, bukit, dan samudra, serta berjuta kelokan yang entah tak jelas garis batasnya, kita semua terus berlari. Lari dari apa? Kadang kita pun tidak bisa mendefinisikan sesuatu yang mengejar kita. Atau, lari untuk apa? Kita pun sulit mendefinisikan untuk apa kita berlari. Setidaknya, janganlah lari dari kenyataan. 

Hidup itu layaknya DAS. Ada yang dendritik, pinnate, annular, radial. Tergantung, tergantung dari topografi yang ada, tergantung dari latar belakang kisah kita, dan tergantung dari kemauan kita untuk membentuk pemikiran kita. Dendritik, ketika kita menyukai petualangan, ingin tahu banyak hal. Maka ada ribuan, bahkan jutaan pilihan atas cabang yang menunggu kita. Tetapi, tidak semua aliran bermuara baik, bukan? 

Untuk sahabatku yang sedang dalam permenungan. Lewat fajar kita berharap, lewat senja kita berefleksi. Dan esok pagi, kita masih bisa melihat fajar yang sama. Dan semua itu terus berulang hingga akhir hayat. Ada jutaan ikan di lautan, ada siklus yang mengawali dan mengakhiri kehidupan terumbu karang. Ada miliaran pria di dunia ini, tetapi toh, hanya satu yang akan kau bawa pulang, bukan? Kalau kita sudah tahu akhirnya, buat apa kita terus menerus merenungkan hal yang sudah jelas? Atau mungkin ingin lihat prosesnya? Proses bukanlah tujuan, melainkan pembelajaran untuk mencapai tujuan itu. Samudra Pasifik hanya berjarak sepelemparan batu. Ya, 6.812 mil hanyalah jarak fisik. Tapi ada jarak hati, dan jika memang sudah digariskan, Mars dan Bumi pun hanya selangkah kaki.